Beijing, Bharata Online - Bank Rakyat Tiongkok atau People's Bank of China (PBOC), bank sentral negara tersebut, memulai operasi reverse repo langsung senilai 600 miliar yuan (sekitar 1.565 triliun rupiah) pada hari Senin (15/6) untuk menjaga likuiditas yang cukup dalam sistem perbankan.

Operasi ini memiliki kuantitas tetap dan dilakukan melalui penawaran suku bunga, dengan penawaran yang menang ditentukan pada berbagai tingkat harga. Menurut bank sentral, jangka waktunya adalah enam bulan atau 183 hari.

Sebanyak 600 miliar yuan (sekitar 1.565 triliun rupiah) reverse repo langsung enam bulan akan jatuh tempo pada bulan Juni 2026. Ini berarti bahwa putaran operasi baru bank sentral merupakan rollover dengan jumlah yang sama, mengakhiri tiga bulan berturut-turut operasi dengan volume yang berkurang.

Operasi reverse repo langsung, sebuah instrumen yang diperkenalkan bank sentral pada Oktober 2024 untuk mengelola likuiditas dalam sistem perbankan nasional, dilakukan setiap bulan dengan jangka waktu tidak lebih dari satu tahun.

Dalam mekanisme ini, bank sentral membeli obligasi dari dealer utama, seperti bank-bank komersial besar, sambil menyepakati tanggal di masa mendatang bagi para dealer untuk membeli kembali jumlah dan jenis obligasi yang sama. Proses ini secara efektif menyuntikkan likuiditas ke pasar.