Jakarta, Bharata Online - Dalam rangka mempererat pertukaran budaya dan persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia, Kantor Informasi Pemerintah Provinsi Yunnan dan Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Yunnan menggelar upacara pembukaan seri kegiatan budaya "Perjalanan Cheng Ho: Duta Persahabatan" pada Selasa (30/6) di Flores Ballroom, Hotel Borobudur Jakarta.
Bersamaan dengan itu juga diadakan seremoni penyerahan replika kapal Cheng Ho, bazar budaya, serta pameran offline lomba desain poster kreatif "AI Warisan Dunia · Jejak Cheng Ho", yang semuanya untuk menampilkan semangat Cheng Ho tentang perdamaian, keterbukaan, dan saling menguntungkan, sekaligus mengangkat identitas Yunnan sebagai "tanah kelahiran Cheng Ho".
Selain itu, acara yang dihadiri oleh Delegasi Yunnan, perwakilan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, tamu dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, serta perwakilan media dalam dan luar negeri ini juga menggelar seminar bertajuk "Inisiatif Peradaban Global & Penyebaran Internasional Semangat Cheng Ho".
Cheng Ho adalah seorang kasim istana, laksamana, diplomat, dan penjelajah muslim Tiongkok yang hidup pada masa awal Dinasti Ming (1371–1433). Ia sangat terkenal karena memimpin tujuh ekspedisi armada raksasa melintasi Asia dan Afrika, mendahului pelayaran bangsa Eropa. Menariknya, enam kali di antaranya singgah di Pulau Jawa, Indonesia.
Menurut Chen Wu, Atase Pendidikan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, kapal-kapal yang dibawa Cheng Ho bukanlah kapal perang dan meriam, melainkan sutra, porselen, teh, serta keterampilan pertanian dan berbagai kerajinan tangan. Masyarakat Indonesia pun menyambutnya dengan tulus, menggunakan ramuan herbal untuk mengobati awak kapal Tiongkok yang sakit, dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menetap di Nusantara.
"Kenangan yang terpelihara selama berabad-abad ini merupakan cerminan nyata dari semangat bangsa Tiongkok yang menjunjung 'harmoni antarbangsa, kebersamaan dalam suka dan duka, serta persaudaraan sejagat', sekaligus menjadi akar yang membuat persahabatan Tiongkok-Indonesia semakin kokoh dan abadi sepanjang masa," ujar Chen dalam sambutannya.
Di sisi lain, Wen Liao, Wakil Direktur Kantor Peradaban Spiritual Komite Provinsi Yunnan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mengatakan dalam sambutannya bahwa lebih dari 600 tahun yang lalu, armada Cheng Ho berlayar pulang-pergi ke Laut Nusantara, memakan waktu berbulan-bulan dalam sekali perjalanan. Kini, jalur perdagangan langsung dari Kunming ke Jakarta dan Bali telah tersedia, dengan perjalanan pulang-pergi tercepat hanya membutuhkan waktu 6 jam.
Selain itu, Wen mengatakan interaksi antara Yunnan dan Indonesia juga telah melampaui pertukaran budaya yang dangkal dan perdagangan sederhana, memasuki babak baru kerja sama mendalam yang terlembaga, multitingkat, dan menyeluruh. Kedua pihak memperdalam kerja sama dan saling melengkapi keunggulan di bidang-bidang seperti pertanian modern, biomedis, energi bersih, pertukaran budaya dan pendidikan, serta perlindungan ekosistem.
"Sederet proyek kerja sama telah dilaksanakan dan membuahkan hasil, memberikan manfaat nyata bagi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat kedua daerah. Hari ini, kami meluncurkan rangkaian kegiatan pertukaran budaya "Pelayaran Cheng Ho: Utusan Peradaban Dunia" di sini, justru untuk menjadikan semangat Cheng Ho sebagai pencetus, mengenan Kembali kejayaan bersejarah, dan melanjutkan penulisan lembaran persahabatan di era baru," katanya.