Shanghai, Bharata Online - Pemberlakuan kebijakan bebas visa bagi warga negara Tiongkok yang memenuhi syarat di Turki telah memicu minat para wisatawan untuk merencanakan kunjungan ke negara Eurasia tersebut, sementara bandara dan bisnis di Turki secara aktif bersiap untuk menyambut lebih banyak pengunjung dari Tiongkok.
Berdasarkan kebijakan yang diluncurkan pada 2 Januari 2026, warga negara Tiongkok yang memegang paspor biasa dapat memasuki Turki tanpa visa untuk tujuan wisata atau transit hingga 90 hari dalam periode 180 hari.
Di Shanghai, sebuah agen perjalanan telah meningkatkan upaya untuk mengiklankan tur Turki kepada para pengunjung. Banyak konsumen yang merencanakan perjalanan menunjukkan peningkatan minat untuk mengunjungi Turki sebagian besar karena skema bebas visa, dan operator tur melaporkan peningkatan bisnis yang signifikan.
"Saya baru-baru ini mengetahui bahwa Turki telah memberikan perjalanan bebas visa (kepada wisatawan Tiongkok yang memenuhi syarat), jadi saya ingin mengajak orang tua saya berkunjung ke Turki selama liburan," kata seorang konsumen.
"Sejak Turki mulai memberikan perjalanan bebas visa (bagi wisatawan Tiongkok yang memenuhi syarat), destinasi ini menjadi sangat populer, dengan jumlah pertanyaan dan pemesanan meningkat beberapa kali lipat. Pemesanan untuk liburan Tahun Baru Imlek saja meningkat tiga kali lipat. Pemesanan pada dasarnya sudah penuh selama bulan Februari," ujar Zhou Weihong, Wakil Manajer Umum Spring Tour.
Demikian pula, agen perjalanan lain di Shanghai mengatakan bahwa pertanyaan tentang tur Turki meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya, dan tur kelompok pada dasarnya sudah penuh dipesan untuk liburan Tahun Baru Imlek mendatang.
"Karena saya menjalankan bisnis sendiri, saya biasanya cukup sibuk. Negara-negara bebas visa lebih menarik bagi saya karena umumnya lebih ramah, dan Turki, khususnya, berarti romantis dan relaksasi bagi saya," ungkap seorang konsumen.
"Kebijakan bebas visa Turki telah meningkatkan penjualan di banyak rute wisata sekitarnya, seperti dari Yunani ke Turki atau dari Mesir ke Turki," kata Wang Xiuyun, Kepala Cabang Tongcheng Travel di Jalan Changning.
Dengan mengantisipasi peningkatan jumlah wisatawan dari Tiongkok, para pelaku bisnis dan bandara di Turki telah meningkatkan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan layanan berbahasa Mandarin.
Grand Bazaar, salah satu objek wisata paling terkenal di Istanbul, merupakan rumah bagi ribuan toko. Banyak pemilik toko mengaku sibuk mempelajari bahasa Mandarin karena mereka memperkirakan bahwa kemudahan masuk akan menyebabkan peningkatan jumlah wisatawan dari Tiongkok.
"Karena diperkirakan akan ada lebih banyak pengunjung dari Tiongkok, kami bergegas mempelajari bahasa Mandarin. Kami akan berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin kami untuk melayani wisatawan dari Tiongkok dengan lebih baik," kata Salih Budak, pemilik toko permen.
Selain belajar berkomunikasi dengan wisatawan dalam bahasa ibu mereka, banyak pemilik toko telah mempertimbangkan untuk mengaktifkan pembayaran menggunakan perangkat seluler, yang lebih familiar bagi konsumen Tiongkok.
Bandara juga sedang melakukan persiapan. Bandara Istanbul telah berupaya untuk menyertakan rambu-rambu berbahasa Mandarin di seluruh fasilitasnya di bawah proyek "Bandara Ramah Tiongkok" sejak tahun 2022.
Dengan diberlakukannya kebijakan bebas visa, bandara itu berencana untuk meningkatkan jumlah staf berbahasa Mandarin untuk membantu prosedur-prosedur penting seperti bea cukai dan pengambilan bagasi, memastikan proses masuk yang lancar bagi wisatawan dari Tiongkok.