JAKARTA, Radio Bharata Online - Presiden Iran Ebrahim Raisi belum ditemukan, meskipun ada laporan yang bertentangan mengatakan, bahwa lokasi jatuhnya helikopternya telah ditemukan.

Namun laporan tersebut dengan cepat dibantah oleh Bulan Sabit Merah Iran, dan dunia terus menyaksikan kru darurat Iran mencari Presiden Raisi di daerah terpencil, dekat Kawasan Lindung Dizmar di provinsi Azerbaijan Timur Iran, tempat helikopternya jatuh, sementara konvoi helikoopter lainnya terus berlanjut.

Dikutip dari Al Jazeera, saat kecelakaan terjadi, Presiden Raisi baru saja kembali dari perbatasan Iran dengan Azerbaijan, tempat ia dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev meresmikan proyek bendungan kerja sama, yang merupakan tanda terbaru dari membaiknya hubungan kedua negara. Dua puluh tim penyelamat serta sejumlah drone yang tidak diketahui jumlahnya, telah dikirim ke daerah perkiraan di mana helikopter itu jatuh.

Laporan mengenai jatuhnya helikopter dalam konvoi presiden Iran, pertama kali beredar di media social, dan dengan cepat diangkat oleh media lokal. Laporan awal dari situs berita Mehr yang terhubung dengan pemerintah mengatakan, Raisi memilih melakukan perjalanan ke Tabriz dengan mobil karena kondisi cuaca berkabut, dan dia aman.

Berita tersebut kemudian diturunkan, setelah televisi pemerintah mengonfirmasi bahwa helikopter yang hilang itu membawa Presiden Raisi dan pejabat lainnya. Televisi pemerintah mengatakan helikopter itu mengalami “pendaratan keras”.

Istilah “Pendaratan keras” adalah saat pesawat mendarat lebih keras dan lebih cepat dari yang seharusnya, bisa karena cuaca, kesalahan pilot, atau masalah mekanis.

Di Jakarta, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri, menyampaikan keprihatinan dan doa terbaik atas musibah tersebut. (Al Jazeera)