Bharata Online - Kembalinya Hong Kong sebagai pusat penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) terbesar dunia pada tahun 2025 bukan sekadar fenomena pasar, melainkan refleksi dari pergeseran struktural kekuatan ekonomi dan keuangan global yang semakin condong ke Asia, khususnya Tiongkok.

Dalam perspektif ekonomi politik internasional, apa yang terjadi di Hong Kong hari ini memperlihatkan bagaimana negara dan wilayah yang mampu mengombinasikan stabilitas kebijakan, kedalaman pasar, serta visi pembangunan jangka panjang justru lebih adaptif dibandingkan model liberal Barat yang semakin terfragmentasi oleh konflik politik internal, proteksionisme, dan ketidakpastian regulasi.

Data bursa efek Hongkong (Hong Kong Exchanges and Clearing Limited/HKEX) yang menunjukkan penggalangan dana IPO sebesar HK$274,6 miliar (sekitar 592,5 triliun rupiah) dari 106 pencatatan baru, dengan lonjakan omset harian hingga 43 persen secara tahunan, menegaskan bahwa modal global tidak sekadar “kembali” ke Hong Kong, tetapi secara rasional memilih ekosistem yang paling menjanjikan untuk pertumbuhan jangka panjang.

Dari sudut pandang teori realisme struktural, arus modal global selalu mencari pusat kekuatan yang stabil dan mampu menjamin kepastian kepentingan ekonomi. Dalam konteks ini, Hong Kong berfungsi sebagai instrumen strategis Tiongkok untuk mempertahankan dan bahkan memperluas pengaruhnya dalam sistem keuangan global.

Ketika Amerika Serikat (AS) dan Barat semakin sering menggunakan pasar keuangan sebagai alat tekanan geopolitik melalui sanksi, ancaman delisting, hingga pengawasan ketat terhadap perusahaan Tiongkok. Hong Kong justru menawarkan alternatif yang lebih rasional, stabil, dan minim politisasi.

Fakta bahwa empat perusahaan Hong Kong masuk dalam 10 IPO terbesar dunia pada tahun 2025, serta keberhasilan pencatatan A+H yang menyumbang lebih dari separuh total dana IPO, menunjukkan keunggulan struktural yang sulit ditandingi oleh bursa Barat saat ini.

Dalam paradigma liberal institusional, kekuatan institusi menjadi kunci kepercayaan pasar. Reformasi berkelanjutan yang dilakukan HKEX, seperti penerapan Bab 18A dan 18C, peluncuran kanal perusahaan teknologi (Technology Enterprises Channel/TECH), serta opsi pengajuan rahasia, memperlihatkan fleksibilitas institusional yang justru sering absen di pasar AS.

Di Amerika, perusahaan Tiongkok harus menghadapi rezim regulasi yang berubah-ubah, tekanan politik dari Kongres, dan ketidakpastian terkait Dewan Pengawasan Akuntansi Perusahaan Publik (Public Company Accounting Oversight Board/PCAOB) serta Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission/SEC) di AS.

Sebaliknya, Hong Kong menawarkan kepastian aturan yang jelas dan berorientasi pada pertumbuhan sektor strategis seperti bioteknologi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan. Tidak mengherankan jika hingga Desember 2025 terdapat lebih dari 300 aplikasi IPO aktif di Hong Kong, sebuah angka yang mencerminkan kepercayaan jangka panjang pelaku pasar global.

Jika dianalisis melalui pendekatan developmental state, keberhasilan Hong Kong tidak dapat dipisahkan dari strategi negara Tiongkok secara keseluruhan. Reformasi di STAR Market Shanghai, dukungan terhadap dana investasi real estat (Real Estate Investment Trusts/REITs), serta integrasi pasar A-share dan Hong Kong mencerminkan peran aktif negara dalam mengarahkan alokasi modal ke sektor produktif dan teknologi tinggi.

Berbeda dengan pendekatan laissez-faire ala Barat yang sering membiarkan pasar bergerak tanpa arah strategis, Tiongkok justru menunjukkan bahwa intervensi negara yang terukur dapat memperkuat daya saing nasional.

Contoh konkret terlihat dari IPO produsen baterai kendaraan listik terbesar dunia yang menghimpun HK$41 miliar (setara 88 triliun rupiah) melalui pencatatan A+H, menjadikannya IPO terbesar global pada tahun 2025. Ini bukan hanya keberhasilan korporasi, melainkan simbol keunggulan rantai industri Tiongkok yang kini mendominasi sektor kendaraan listrik dunia.

Perbandingan dengan Amerika Serikat semakin memperjelas kontras ini. Memang benar bahwa masih terdapat 286 perusahaan Tiongkok yang terdaftar di bursa AS dengan kapitalisasi pasar US$1,1 triliun. Namun, banyak dari pencatatan tersebut didorong oleh keterbatasan akses domestik dan bersifat spekulatif, termasuk melalui SPAC yang risikonya relatif tinggi.

Dari perspektif teori ketergantungan, ketergantungan perusahaan Tiongkok pada pasar modal AS justru memperlihatkan kerentanan terhadap tekanan eksternal. Hong Kong, sebaliknya, memungkinkan Tiongkok menginternalisasi fungsi pendanaan global tanpa harus tunduk sepenuhnya pada hegemoni keuangan Barat. Kenaikan Hang Seng Index lebih dari 28 persen pada 2025, jauh melampaui pertumbuhan S&P 500, menjadi indikator empiris bahwa pasar semakin menghargai model ini.

Dari perspektif konstruktivisme, perubahan sentimen investor global juga mencerminkan pergeseran narasi. Jika sebelumnya Tiongkok dipersepsikan sebagai pasar berisiko tinggi akibat faktor geopolitik, kini narasi tersebut mulai terkikis oleh realitas ekonomi.

Pernyataan para pelaku private equity global seperti L Catterton, PAG, dan Lexington Partners menunjukkan bahwa persepsi risiko digantikan oleh pengakuan terhadap peluang nyata: valuasi menarik, pasar domestik besar, tabungan rumah tangga tinggi, dan kebangkitan merek lokal. Hong Kong berperan sebagai “ruang aman” yang menjembatani persepsi global dengan realitas ekonomi Tiongkok, sekaligus menyediakan jalur exit yang sangat dibutuhkan investor sejak stagnasi pasca-2021.

Secara keseluruhan, kebangkitan Hong Kong sebagai pusat IPO global pada 2025 menegaskan bahwa kekuatan finansial dunia tidak lagi dimonopoli oleh AS dan Barat. Dengan kombinasi kebijakan negara yang strategis, institusi pasar yang adaptif, dan basis ekonomi riil yang kuat, Tiongkok melalui Hong Kong menunjukkan model kapitalisme alternatif yang lebih stabil dan berorientasi jangka panjang.

Dalam konteks persaingan sistemik global, fakta-fakta ini memperlihatkan bahwa daya tarik pasar modal tidak lagi ditentukan oleh retorika kebebasan pasar semata, melainkan oleh kemampuan negara menjamin kepastian, inovasi, dan pertumbuhan berkelanjutan. Hong Kong hari ini bukan hanya mengungguli New York secara statistik, tetapi juga menjadi simbol bergesernya pusat gravitasi keuangan global ke Timur, dengan Tiongkok sebagai aktor utamanya.