BEIJING, Radio Bharata Online - Sebuah pusat penelitian di Shanghai telah mengembangkan beras hibrida yang cocok untuk digunakan di Afrika untuk membantu meningkatkan swasembada pangan di benua yang sering dilanda kekeringan.

Liu Zaochang, kepala program Afrika di Shanghai Agrobiological Gene Center mengatakan, beras hemat air dan tahan kekeringan, yang dikembangkan oleh Shanghai Agrobiological Gene Center, dapat disetujui untuk siap dipasarkan tahun depan setelah enam tahun uji coba di Kenya,

Liu menambahkan, "Shanghai Agrobiological Gene Center adalah yang pertama di Tiongkok yang membiakkan beras hibrida untuk Afrika," 

Dimulai dari Kenya, Shanghai Agrobiological Gene Center mempromosikan beberapa varietas padi ke 11 negara Afrika, terutama Botswana, di mana padi belum ditanam selama hampir 50 tahun.

John Kimani, seorang pemulia padi dari Organisasi Penelitian Pertanian dan Peternakan Kenya, mengatakan beras aromatik memiliki cita rasa yang luar biasa, dan tanamannya sangat produktif, tahan kekeringan, dan hemat air.

Sebagaimana diketahui, penelitian tentang padi hibrida dimulai pada awal tahun 2000-an. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah air yang dibutuhkan untuk bercocok tanam, terutama mengingat kekeringan berkala yang diderita di Afrika.

sekedar informasi, Kepala ilmuwan Shanghai Agrobiological Gene Center, Luo Lijun, memulai penelitian tentang jenis beras baru, dengan hampir 50 varietas yang dikembangkannya. Breed baru yang dikembangkannya dapat menghemat lebih dari 50 persen air yang biasanya dibutuhkan untuk budidaya dan menghilangkan kebutuhan 30 persen pupuk yang digunakan. Strain tersebut juga membantu mengurangi emisi yang berbahaya bagi iklim.

Pada tahun 2016, staf Shanghai Agrobiological Gene Center pergi ke Kenya untuk bertemu dengan perwakilan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dan kantor program Afrika sangat tertarik pada beras tahan kekeringan yang hemat air karena membantu memenuhi kebutuhan pangan yang mendesak di benua itu. Kunjungan ke Kenya tersebut menghasilkan kesepakatan antara badan PBB, Shanghai gene center dan organisasi pertanian Kenya.

Diketahui, Kenya mengimpor beras dari Amerika Selatan dan Asia Tenggara untuk memenuhi permintaan dalam negerinya. Dan Kenya juga ingin menjadi lebih mandiri dalam beras dan produksi pangan lainnya. Pada tahun 2017, batch pertama benih hibrida ditanam di lapangan percobaan di sebelah barat ibu kota Kenya, Nairobi. Dua situs lagi kemudian ditambahkan-satu di perbatasan Kenya dan Uganda; yang lainnya di kota pelabuhan Mombasa. Hasilnya pun melebihi ekspektasi, padi hibrida terbukti menghemat air dan membutuhkan lebih sedikit pupuk, sekaligus menghasilkan panen yang lebih tinggi.

[Shine]