Beijing, Bharata Online - Upaya remiliterisasi Jepang saat ini telah menjadi tantangan bagi tatanan internasional pascaperang, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam sebuah konferensi pers di Beijing pada hari Kamis (5/11).

Menurut Guo, Jepang belakangan ini gencar melakukan langkah-langkah menuju remiliterisasi.

"Pihak Jepang begitu tidak sabar untuk merevisi tiga dokumen keamanannya, meningkatkan anggaran militer secara drastis, mengembangkan kemampuan ofensif, serta mempercepat proses remiliterisasinya. Ambisi mereka kini terpampang jelas di hadapan publik," kata Guo.

"Apa yang disebut sebagai 'tantangan strategis terbesar' itu hanyalah dalih bagi Jepang untuk melakukan ekspansi militer dengan mengatasnamakan pertahanan. Kami juga mencatat adanya kekhawatiran di dalam Jepang sendiri mengenai terkikisnya konsep negara sebagai 'negara cinta damai', serta dampak buruknya terhadap perekonomian dan penghidupan rakyatnya," ujarnya.

Dalam sejarah, militerisme Jepang telah melakukan kejahatan luar biasa yang menimbulkan penderitaan hebat bagi penduduk Asia-Pasifik dan dunia secara luas. Guo menegaskan bahwa pelajaran dari masa lalu belum begitu jauh tertinggal dan tidak boleh diabaikan.

"Jepang terus memacu remiliterisasinya dengan kecepatan penuh, secara konsisten melampaui batasan kebijakan 'yang semata-mata berorientasi pada pertahanan'. Hal ini merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan stabilitas kawasan, sekaligus menantang tatanan internasional pasca-perang. Masyarakat internasional harus tetap sangat waspada dan bekerja sama untuk membendung langkah tersebut," tutur Guo.