Henan, Radio Bharata Online - Tiongkok tengah meningkatkan upaya untuk mengembangkan teknologi digital canggih dalam konservasi ekologis Sungai Kuning, sungai terpanjang kedua di negara itu. Konservasi itu diharapkan dapat menyelesaikan masalah utama di lembah sungai, seperti kekurangan air, kerapuhan ekologi, dan banjir.

Upaya berkelanjutan pun telah dilakukan untuk perlindungan ekologis di sepanjang "sungai induk" negara ini dalam beberapa tahun terakhir, dengan undang-undang perlindungan Sungai Kuning yang mulai berlaku pada 1 April 2023 mendatang.

Batu merupakan komponen utama bendungan di dekat Sungai Kuning, sehingga kestabilannya secara langsung menentukan aman atau tidaknya bendungan tersebut. Untuk mencegah sungai menghanyutkan batu-batu tersebut, para staf telah memasang alat khusus untuk memantau keadaan batu secara real time di Provinsi Henan, Tiongkok tengah.

Selama batu-batu ini bergerak, sistem akan merekam dan mengirimkan sinyal alarm. Dan inspektur di garis depan dapat bergegas ke tempat kejadian untuk menangani keadaan darurat untuk pertama kalinya. Sistem ini dapat melakukan peringatan dini secara real-time selama 24 jam non-stop di segala cuaca di Sungai Kuning.

"Alat di tangan saya ini yang biasa kita sebut 'smart stone'. Kenapa disebut 'smart stone'? Karena terdiri dari dua bagian, microcontroller unit (MCU) dan baterai. Kemudian, saya akan meletakkannya di bebatuan, dan ketika terhubung ke sensor, itu menjadi pengintai kecil yang kami taruh di tumpukan batu," kata Wang Yueyang, Wakil Kepala Bagian Teknik Henan Intelligent Yellow River Research Institute.

Padahal, "batu pintar" hanyalah aplikasi dasar dari konstruksi sistem digital kembar tentang Sungai Kuning.

Tahun lalu, Rencana Pembangunan Digital-Twin Yellow River (2022-2025) sudah dirilis. Rencana itu menyerukan percepatan pembangunan sistem digital kembar dengan fungsi prakiraan, peringatan dini, latihan dan perencanaan yang telah diatur sebelumnya selama Periode Rencana 5 Tahun ke-14 (2021-2025).

"Lebih spesifiknya, Yellow River divirtualisasikan melalui teknologi digital, lalu datanya disimpan di komputer. Yellow River di realita dan Yellow River di komputer seperti kembar," jelas Hou Hongyu, Ketua Tim Kerja untuk sistem digital kembar dari Sungai Kuning.

"Ini benar-benar dapat mensimulasikan terjadinya banjir di sistem kami. Dan kemudian kami memeriksa kelemahan apa yang kami miliki dalam proyek kami. Setelah memberikan data kepada kami, kami dapat mencegah risiko atau mengatasi masalah itu," imbuhnya.