New York, Bharata Online - Seorang utusan Tiongkok menyerukan kepada semua pihak terkait, terutama Israel, untuk sepenuhnya mematuhi perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza guna memajukan solusi yang komprehensif, adil, dan langgeng untuk masalah Palestina sesegera mungkin.
Fu Cong, Perwakilan Tetap Tiongkok untuk PBB, menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Senin (29/6) selama pengarahan Dewan Keamanan PBB tentang Palestina dan Timur Tengah.
Perjanjian gencatan senjata belum menghasilkan perdamaian sejati, kata Fu, seraya menambahkan bahwa serangan udara Israel yang tiada henti telah mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian dan bahwa setidaknya satu anak telah tewas rata-rata setiap hari sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025.
Menurutnya, krisis kemanusiaan di Gaza tetap parah, ditandai dengan kekurangan pasokan penting dan kondisi sanitasi yang mengerikan. Tiongkok menyerukan kepada semua pihak terkait, terutama Israel, untuk sepenuhnya mematuhi perjanjian gencatan senjata agar tercapai gencatan senjata yang tulus dan langgeng di Gaza.
"Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada negara yang boleh membangun keamanannya di atas ketidakamanan negara lain. Pendudukan militer atau tekanan apa pun tidak akan menghasilkan perdamaian abadi," katanya.
Mengenai situasi di Tepi Barat, Fu menyerukan Israel untuk segera menghentikan aktivitas pemukiman, mengekang kekerasan pemukim, memastikan akuntabilitas yang kuat atas serangan tersebut, dan mencabut pembatasan yang tidak masuk akal terhadap perekonomian Tepi Barat.
Fu mengatakan, solusi dua negara adalah satu-satunya cara yang layak untuk menyelesaikan masalah Palestina, dan pengaturan alternatif atau mekanisme baru lainnya harus menjunjung tinggi prinsip bahwa Palestina memerintah Palestina, menghormati kehendak rakyat Palestina, dan mendukung, bukan melemahkan, solusi dua negara.
Menurut statistik resmi Palestina, ada hari Kamis (25/6), jumlah warga Palestina yang tewas akibat tembakan tentara Israel dan pemukim sejak awal tahun 2026 telah meningkat menjadi 73 orang, termasuk 17 anak-anak, lima perempuan, dan dua orang lanjut usia.