BEIJING, Radio Bharata Online - Tiongkok, AS, Inggris, dan UE telah menandatangani deklarasi di Inggris, yang berpendapat bahwa kecerdasan buatan (AI) berisiko menimbulkan bencana bagi umat manusia, dan juga mencatat “perlunya tindakan internasional” terhadap risiko tersebut.

Deklarasi tersebut menandakan bahwa model masa depan untuk mengatasi risiko terkait AI, sedang dibentuk dengan partisipasi Tiongkok.

Pakar AI Tiongkok menjelaskan, di masa depan, pengalaman Tiongkok dalam tata kelola AI dapat menjadi contoh bagi komunitas internasional, khususnya negara-negara Selatan. Pengalaman Tiongkok ini akan memberikan alternatif selain pendekatan Barat, dan menunjukkan model unik Beijing dalam mencari keseimbangan, antara regulasi dan inovasi.

Menurut laporan The Guardians, sebanyak 28 negara telah menandatangani Deklarasi Bletchley pada hari pertama KTT keamanan AI. Negara-negara tersebut sepakat untuk bekerja sama dalam penelitian keamanan AI.  Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menyambut baik deklarasi tersebut, dan menyebutnya “sangat luar biasa.”

Dalam sambutannya menjelang kehadirannya di KTT pada hari Kamis, Sunak mengatakan, "Tidak ada yang lebih transformatif bagi masa depan anak cucu kita, selain kemajuan teknologi seperti AI."

Wu Zhaohui, Wakil Menteri Sains dan Teknologi Tiongkok, mendesak semua pihak untuk meningkatkan keterwakilan negara-negara berkembang dalam tata kelola AI global, dan terus menjembatani kesenjangan intelijen dan kesenjangan kapasitas tata kelola. Tiongkok menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan semua pihak, untuk memperkuat komunikasi dan pertukaran mengenai tata kelola keselamatan AI, dan menyumbangkan kebijaksanaan Tiongkok dalam pembentukan mekanisme internasional. Delegasi Tiongkok juga mencatat bahwa Beijing bersedia bekerja sama dengan semua pihak, untuk melaksanakan Inisiatif Pembangunan Global, Inisiatif Keamanan Global, dan Inisiatif Peradaban Global, serta mempromosikan teknologi AI agar lebih bermanfaat bagi umat manusia, dan membangun komunitas global dengan masa depan bersama. (Global Times)