JAKARTA, Bharata Online - Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyambut tawaran kerja sama dengan Tiongkok untuk mengembangkan pusat penelitian padi bersama di Merauke, Papua Selatan, guna meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung pengembangan kawasan transmigrasi.
Tawaran tersebut disampaikan Presiden Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) Huang Sanwen dalam pertemuan dengan Iftitah di Beijing, Tiongkok, Senin (12/10), yang membahas peluang pengembangan teknologi pertanian sesuai karakteristik lahan setempat.
Dalam keterangan resminya di Jakarta, Iftitah menilai kerja sama penelitian tersebut relevan dengan kebutuhan Indonesia dalam meningkatkan produktivitas pangan sekaligus mengembangkan kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Menurut dia, pengembangan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan, tetapi juga membutuhkan benih unggul, teknologi budi daya, pengelolaan air, peningkatan keterampilan petani, serta kepastian pasar.
Karena itu, Iftitah menyampaikan ketertarikannya mempelajari teknologi padi hibrida dan berbagai inovasi pertanian Tiongkok yang berpotensi diterapkan sesuai kondisi lahan dan lingkungan pertanian di Indonesia.
Penjajakan kerja sama tersebut berpeluang melibatkan Kementerian Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta lembaga penelitian pertanian Tiongkok.
Namun, pembahasan lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan fokus penelitian, lokasi pelaksanaan, bentuk kelembagaan, kebutuhan pembiayaan, dan tahapan kerja sama sebelum rencana tersebut dapat direalisasikan.
Iftitah menekankan penelitian pertanian di Merauke perlu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tidak hanya melalui peningkatan hasil panen, tetapi juga efisiensi usaha tani dan pengembangan industri pengolahan.
Menurut Iftitah, keterlibatan pembeli hasil produksi atau offtaker penting untuk memberikan kepastian pasar kepada petani, sehingga peningkatan produktivitas dapat diikuti dengan peningkatan pendapatan masyarakat.
Kementerian Transmigrasi dan Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia pada Juni 2026 juga telah menjajaki pengembangan pusat riset pertanian dan pendidikan vokasi di kawasan transmigrasi Salor, Merauke.
Pertemuan dengan CAAS di Beijing menjadi kelanjutan penjajakan tersebut, terutama untuk memperdalam pembahasan teknologi padi dan peningkatan kapasitas penelitian yang sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Kementerian berharap pembahasan teknis antarlembaga dapat segera dilakukan agar kerja sama menghasilkan rencana pelaksanaan yang jelas, sekaligus memberikan manfaat bagi produktivitas pertanian, penciptaan lapangan kerja, dan pendapatan petani.
Selain pengembangan pusat riset padi, Huang Sanwen juga menawarkan peluang kerja sama pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian dan pengolahan pangan, serta penerapan ilmu pengetahuan dalam pembangunan ekonomi perdesaan.
Pihak Tiongkok juga membuka peluang pendidikan pascasarjana bagi peneliti Indonesia, pertukaran pengetahuan antarlembaga penelitian, dan penyelenggaraan pelatihan jangka pendek untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Iftitah menyambut peluang tersebut dan menilai pemanfaatan teknologi harus disertai pendidikan, pelatihan, serta pendampingan agar inovasi pertanian dapat diterapkan oleh masyarakat kawasan transmigrasi.
Dalam pertemuan itu, Iftitah turut menyampaikan potensi pengembangan komoditas Indonesia, seperti kelapa, durian, kopi, dan kakao, melalui kemitraan investasi, pengolahan hasil produksi, serta perluasan akses pasar dengan pelaku usaha di Tiongkok. [sumber Antara]