Beijing, Radio Bharata Online - Kerja sama berkualitas tinggi di bawah Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) telah menjadi pendorong utama pembangunan global, mendorong konektivitas internasional, kemitraan yang saling menguntungkan, dan pemulihan ekonomi di seluruh dunia selama satu dekade terakhir, demikian ditegaskan oleh para ahli dari lebih dari 40 negara pada pertemuan hari Selasa (17/10) di Beijing.

Dalam pertemuan pleno Belt and Road Studies Network (BRSN), para ahli dan delegasi Tiongkok dan asing dari berbagai bidang secara aktif bertukar pandangan dan pengalaman tentang bagaimana mengatasi tantangan global secara efektif. Mereka juga menyatakan kesediaan mereka untuk terus memperkuat komunikasi, memperdalam rasa saling percaya, dan bersama-sama mendorong kerja sama BRI.

Setelah pertemuan, sejumlah peserta dan perwakilan berbagi pandangan mereka tentang pengaruh BRI di negara dan wilayah masing-masing.

"BRI adalah visi global yang berbicara tentang konektivitas, karena konektivitas adalah kata kunci dalam BRI. Bagaimana kita mengikuti rute perdagangan kuno untuk menghubungkan Eropa, Afrika, dan Asia, sehingga kita dapat menjembatani kesenjangan pembangunan dan itulah yang kita cita-citakan sebagai benua Afrika," ujar Paul Frimpong, Direktur Eksekutif dan Peneliti Senior dari Africa-China Center for Policy and Advisory.

Akkan Suver, Presiden Marmara Group Foundation, sebuah lembaga swadaya masyarakat Turki, memuji BRI sebagai "proyek perdamaian" yang memupuk hubungan budaya dan antar masyarakat.

"Prakarsa Sabuk dan Jalan bukan hanya sebuah proyek perdagangan atau ekonomi. Ini bukan proyek (hanya) Tiongkok, ini adalah proyek perdamaian untuk kemanusiaan, untuk hari esok, untuk anak-anak kita. Sekarang kita memiliki banyak konflik di era kita. Untuk perdamaian, kita membutuhkan kerja sama Prakarsa Sabuk dan Jalan. Orang-orang terhubung dengan orang-orang, dan juga budaya terhubung dengan budaya. Ini adalah satu jendela baru untuk perdamaian," kata Suver.

Torsten Jelinek, mantan Wakil Presiden untuk Eropa di bawah Forum Ekonomi Dunia, memuji "pandangan strategis" Beijing dalam ekspansi BRI baru-baru ini.

"Sabuk dan Jalan bagi saya ketika diluncurkan dan tentu saja beberapa tahun kemudian, itu adalah tanda pandangan strategis dan mengenali perubahan besar (yang) terjadi dan menerjemahkan perubahan itu ke dalam program yang sangat komprehensif. Selama beberapa bulan dan tahun, menjadi sangat jelas apa itu Prakarsa Sabuk dan Jalan, dan pemerintah Tiongkok muncul dengan tiga inisiatif baru yang menyempurnakan Sabuk dan Jalan. Ini juga merupakan tanda dari pandangan strategis ke depan dan (akan) menjadi cikal bakal untuk menghadapi tantangan sepuluh tahun ke depan," kata Jelinek.

BRI juga berperan penting dalam membantu rekonstruksi pascaperang di Irak, menurut Haider Al-Tamimi, Kepala Institut Penelitian Sejarah di lembaga pemikir Irak, Bayt Al-Hikma.

"Prakarsa ini penting untuk membantu kami kembali membangun (rekonstruksi pascaperang). Banyak sudut di Irak yang hancur karena banyaknya perang. Kami memiliki kesempatan yang baik dengan Tiongkok untuk bekerja sama dan kami memiliki teman yang baik dalam prakarsa ini," katanya.

BRI juga melihat masa depan melalui kemajuan Jalur Sutra Digital, yakni sebuah jalur penting yang menghubungkan pasar-pasar digital internasional. Evandro Menezes de Carvalho, Kepala Pusat Studi Brasil-Tiongkok di bawah Getulio Vargas Foundation, sebuah lembaga pendidikan dan wadah pemikir Brasil, mengatakan bahwa konektivitas digital ini sangat menjanjikan.

"Apa yang dapat kita lakukan sekarang adalah memikirkan bagaimana mempromosikan pembangunan berkualitas tinggi melalui infrastruktur dan juga infrastruktur baru seperti Jalur Sutra Digital misalnya. Jadi saya percaya bahwa Prakarsa Sabuk dan Jalan memiliki masa depan yang sangat menarik bagi semua negara yang menjadi bagian dari prakarsa ini," katanya.

Sementara menurut Nikolai Tomov, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Nasional Bulgaria untuk Sabuk dan Jalan, kerja sama BRI semakin mendalam di berbagai sektor mulai dari ekonomi dan perdagangan hingga pendidikan di bawah visi Presiden Tiongkok, Xi Jinping, untuk "membangun masa depan bersama bagi umat manusia".

"Kerja sama ini dimulai dari (sektor) ekonomi. Mereka adalah bagian dari budaya, mereka masuk ke pendidikan, mereka masuk ke digital, mereka masuk ke ruang angkasa. Mereka semua sedang mengerjakan konsep Xi Jinping tentang masa depan bersama bagi umat manusia dan sepuluh tahun ke depan akan melihat banyak, jauh, jauh lebih banyak keberhasilan dalam aspek ini," kata Tomov.