BEIJING, Radio Bharata Online - Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengerahkan senjata anti-drone jenis baru, dalam latihan gabungan multinasional yang sedang berlangsung dengan negara-negara Asia Tenggara.
CCTV melaporkan pada hari Minggu, dalam latihan gabungan Aman Youyi-2023, yang diadakan di Zhanjiang, Provinsi Guangdong Tiongkok Selatan, untuk pertama kalinya PLA memperlihatkan sejenis sistem pengintaian dan penanggulangan drone portabel. Menurut laporan CCTV, sistem ini dapat secara efektif mendeteksi, melacak, menemukan, dan mengenali drone yang terbang di ketinggian rendah. Senjata tersebut memiliki berat 3,5 kilogram, dan baterai litiumnya dapat mendukung penggunaan selama 120 menit, memungkinkannya melakukan interferensi terarah terhadap drone dalam jarak 1,5 kilometer. Setelah mengganggu drone sasaran, senjata tersebut dapat mendaratkan atau menembak jatuh target.
Pakar militer yang berbasis di AS yang meminta tidak disebutkan namanya, kepada Global Times pada hari Senin mengatakan, dengan pesatnya perkembangan teknologi drone, tidak hanya militer biasa, tetapi juga teroris dan bajak laut dengan mudah memiliki akses untuk drone komersial. Penggunaan drone semacam itu telah terbukti dalam banyak konflik baru-baru ini di banyak tempat lain di seluruh dunia. Menurutnya, tidak lama lagi drone yang dapat terbang rendah, terbang lambat, dan berukuran kecil, akan menjadi hal yang biasa, sama seperti pistol dan senapan di unit infanteri. Senjata anti-drone Tiongkok yang baru diluncurkan, tampaknya dirancang untuk mengatasi drone jenis ini.
PLA Daily melaporkan, jenis peralatan baru lainnya yang berpartisipasi dalam latihan gabungan ini, adalah termasuk robot pengintai, dan sistem radar yang mampu menembus dinding.
Latihan gaubungan ini diinisiasi oleh Tiongkok, dan diikuti oleh Kamboja, Laos, Malaysia, Thailand dan Vietnam, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasional dalam operasi kontra-terorisme perkotaan, dan anti-pembajakan maritim. (GLobal Times)