Beijing, Radio Bharata Online - Presiden Suriah, Bashar al-Assad, tiba di Beijing pada hari Minggu (24/9) untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi setelah kunjungannya selama tiga hari di kota Hangzhou, Tiongkok timur. Ia bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan menghadiri upacara pembukaan Asian Games ke-19.

Dalam beberapa hari mendatang, Assad diperkirakan akan bertemu dengan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, dan Zhao Leji, Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional.

Kunjungan ini menandai kunjungan resmi pertama Assad ke Tiongkok dalam hampir dua dekade terakhir. Tiongkok melihat kunjungan itu sebagai kesempatan untuk memperkuat rasa saling percaya dan kerja sama di berbagai bidang.

Selama berada di Hangzhou, Xi dan Assad pada hari Jum'at (22/9) bersama-sama mengumumkan pembentukan kemitraan strategis Tiongkok-Suriah. Presiden Xi menekankan bahwa kemitraan ini akan menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan bilateral.

Kunjungan terakhir Presiden Assad ke Tiongkok adalah pada tahun 2004, dan sejak itu banyak yang telah berubah. Pada bulan Maret 2023, Tiongkok berhasil memediasi kesepakatan antara Iran dan Arab Saudi, yang dipandang sebagai implementasi dari Inisiatif Keamanan Global Presiden Xi.

Kontak diplomatik antara Suriah, Tiongkok, dan negara-negara Arab lainnya juga telah menguat, setelah gempa bumi besar yang melanda Turki dan Suriah pada bulan Februari 2023, yang mendorong Tiongkok untuk menawarkan bantuan kemanusiaan darurat senilai sekitar 5 juta dolar AS (sekitar 77 miliar rupiah).

Tonggak penting lainnya adalah bergabungnya Suriah dengan Prakarsa Sabuk dan Jalan pada tahun 2022. Langkah ini membuka peluang lebih lanjut bagi Tiongkok untuk memainkan peran penting dalam upaya rekonstruksi masa depan di negara yang dilanda perang tersebut.

Suriah telah menghadapi sanksi Barat yang berat dan tantangan ekonomi, dengan Damaskus yang ingin membangun kembali namun tetap terisolasi oleh Barat.

Sebagian besar wilayah Suriah berada dalam reruntuhan, dengan kekurangan listrik yang serius karena infrastruktur yang hancur dan tidak efisien.

Bantuan dari Tiongkok dan negara-negara Timur Tengah dapat menjadi langkah penting untuk membangun kembali Suriah.