Shanghai, Bharata Online - Kampanye kesehatan masyarakat berskala nasional yang ambisius di Tiongkok, yaitu "kebugaran untuk semua" (fitness for all), serta tekad negara tersebut untuk menjadi kekuatan olahraga terkemuka, telah membuka peluang yang sangat besar bagi bisnis pakaian olahraga di pasar konsumen Tiongkok yang masif. Hal ini disampaikan oleh CEO Adidas, Bjorn Gulden.
Dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) di Shanghai, Gulden mengungkapkan bahwa pendekatan yang dilokalisasi oleh perusahaan pakaian olahraga asal Jerman tersebut merupakan respons langsung terhadap persaingan dari merek-merek lokal yang kini semakin kuat.
Melalui strategi "Di Tiongkok, Untuk Tiongkok" (In China, For China), perusahaan telah menyerahkan kendali penuh atas produk dan aspek kreatif kepada tim mereka di Tiongkok. Saat ini, sekitar separuh dari produk Adidas dirancang dan dikembangkan secara lokal agar selaras dengan tren mode serta preferensi konsumen di wilayah tersebut, didukung oleh rantai pasok yang lebih singkat berkat proses produksi yang dilakukan langsung di dalam negeri.
"Persaingan memaksa kita untuk menjadi lebih baik. Saya yakin alasan kami memilih model 'Di Tiongkok, Untuk Tiongkok' adalah karena adanya persaingan. Masa lalu, ketika Adidas dan berbagai merek lain hanya mengekspor konsep yang sama dari Eropa atau Amerika ke Tiongkok, sudah berakhir. Itulah sebabnya kami kini memiliki desainer dan tim kreatif yang bekerja di Tiongkok, dengan rantai pasok yang lebih pendek karena produksi dapat dilakukan di sini. Langkah ini tentu bertujuan untuk bersaing dengan merek-merek lokal dengan memastikan bahwa kami lebih unggul," ujarnya.
Menyoroti evolusi pakaian olahraga, dari sekadar busana fungsional menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, Gulden menyambut baik kebijakan pemerintah Tiongkok yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak. Menurutnya, kebijakan ini berhasil menarik lebih banyak konsumen ke dalam industri pakaian olahraga.
"Sebagian besar produk olahraga saat ini tidak lagi digunakan semata-mata untuk berolahraga. Produk-produk tersebut kini berfungsi sebagai alas kaki yang nyaman atau barang penunjang gaya hidup, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Sangatlah positif bahwa Tiongkok semakin mendorong kegiatan olahraga. Semakin banyak orang yang berolahraga, maka olahraga akan menjadi semakin penting, tidak hanya dari sisi penjualan produk, tetapi juga dalam memperluas jangkauan audiens untuk produk-produk yang berkaitan dengan budaya olahraga," kata Gulden.
Strategi "kebugaran untuk semua" di Tiongkok menargetkan sekitar 40 persen populasi untuk berolahraga secara rutin pada akhir dekade ini. Upaya tersebut didukung oleh pembangunan maupun peningkatan ribuan fasilitas olahraga komunitas, perluasan area sarana olahraga, serta konsep "lingkaran kebugaran 15 menit" yang dirancang agar setiap penduduk, baik di perkotaan maupun pedesaan, dapat menjangkau area olahraga publik dengan berjalan kaki dalam waktu singkat.