Guizhou, Bharata Online - Pesona budaya tradisional dan pemandangan alam yang megah di sebuah desa etnis minoritas yang diakui dunia, telah menarik wisatawan dari berbagai penjuru. Penduduk setempat menyambut panen raya selama "musim emas" di wilayah yang terletak di Provinsi Guizhou, Tiongkok Barat Daya, itu dengan perayaan yang meriah.
Desa Dong Huanggang, yang berada di Kabupaten Liping, Prefektur Otonom Miao dan Dong Qiandongnan, merupakan permukiman berusia 800 tahun milik etnis Dong, yang juga dikenal sebagai suku Kam. Tahun lalu, desa ini masuk dalam daftar Desa Wisata Terbaik (Best Tourism Villages) versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Desa ini terkenal sebagai tempat lahirnya "Lagu Agung Dong" (Dong Grand Song), yang telah ditetapkan oleh UNESCO dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, serta dikenal karena arsitektur kayunya yang terpelihara dengan baik dan tradisi suku Dong yang tetap lestari sepanjang zaman.
Desa ini juga dengan bangga mempertahankan praktik pertanian kuno dan menjadi sentra produksi "beras ketan harum Liping" atau "beras manis Kam", sebuah produk dengan indikasi geografis yang diakui secara nasional di Tiongkok.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah setempat berupaya mengubah tradisi panen musiman ini menjadi penggerak pariwisata perdesaan, yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal budaya Dong sekaligus menciptakan peluang baru bagi para petani dan pelaku usaha lokal.
Setiap tahun, para petani tetap mempertahankan metode berabad-abad dalam memanen bulir padi dengan tangan, lalu membawanya kembali ke desa untuk dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dalam sebuah prosesi yang menyerupai ritual.
"Beras manis Kam kami biasanya dipanen setahun sekali. Tahun ini, kami mendapatkan panen raya, jadi kami sangat senang," ujar Wu Xianjin, seorang warga setempat.
Selama perayaan panen yang penuh warna, alunan lagu rakyat Dong yang memikat, diiringi instrumen tradisional dan paduan suara anak-anak, membuat para wisatawan berhenti sejenak untuk menyaksikan dengan penuh kekaguman. Beberapa pengunjung bahkan mencoba ikut menggantungkan ikat-ikat padi, sementara yang lain mengabadikan momen penuh sukacita di sekitar lumbung-lumbung padi tersebut.
Simon, seorang wisatawan asal Prancis, termasuk di antara banyak pengunjung internasional yang datang untuk merasakan pesona lokal di jantung pegunungan Guizhou.
"Saya menemukan tempat ini dan suasananya jauh lebih autentik. Jadi, saya menyukainya. Saya senang berada di sini dan menjelajahi seluruh budayanya," ujarnya.
Desa ini berupaya memanfaatkan reputasi globalnya sebagai "Desa Wisata Terbaik PBB" (UN Best Tourism Village). Sejak awal tahun 2026, desa ini telah menerima lebih dari 94.000 kunjungan wisatawan dan menghasilkan pendapatan pariwisata menyeluruh hingga hampir 43 juta yuan (sekitar 117 triliun rupiah), angka yang meningkat lebih dari 5 persen dibandingkan tahun 2025.