New York, Bharata Online - Tiongkok pada hari Jumat (1/5) menyerukan agar navigasi di Selat Hormuz segera dilanjutkan, dengan mengatakan bahwa penutupan jalur air strategis tersebut mengganggu pasokan energi global dan membebani perekonomian di seluruh dunia.
Berbicara dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York, Perwakilan Tetap Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, mengatakan penutupan Selat Hormuz disebabkan oleh perang tidak sah yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dan penutupan tersebut telah menimbulkan kerusakan ekonomi yang signifikan di seluruh dunia.
Fu menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers saat Tiongkok mengambil alih kepresidenan bergilir Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat (1/5).
"Akar penyebab situasi ini adalah perang tidak sah yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran, dan perang ini telah membawa penderitaan yang luar biasa bagi rakyat Iran dan negara-negara tetangga, dan dampaknya meluas. Dan khususnya, penutupan Hormuz sebenarnya menimbulkan malapetaka di pasar minyak dan di perekonomian seluruh dunia, khususnya di negara-negara Selatan," ujar Fu.
Fu mengatakan, prioritas saat ini adalah mempertahankan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menambahkan bahwa baik Iran maupun Amerika Serikat harus bertindak untuk memulihkan jalur pelayaran, dengan Iran mencabut pembatasan dan AS mengakhiri blokade angkatan lautnya.
"Jadi pandangan Tiongkok adalah kita perlu membuka Selat Hormuz secepat mungkin. Dan itu sebenarnya berlaku untuk kedua belah pihak. Iran perlu mencabut pembatasannya di Selat Hormuz dan AS perlu mencabut blokade angkatan lautnya. Dan menurut pandangan kami, masalah yang paling mendesak adalah menjaga gencatan senjata, dan gencatan senjata harus berlangsung lama dan harus ada negosiasi dengan itikad baik antara kedua belah pihak," kata Fu.
Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen aliran minyak dunia melalui jalur laut. Iran memperketat cengkeramannya di Selat Hormuz setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan mereka terhadap Iran pada 28 Februari 2026. AS memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan kapal-kapal yang pergi dan pulang dari Iran.
Lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz telah menurun tajam sejak pecahnya perang, dengan jumlah kapal yang melewati jalur air tersebut turun dari sekitar 130 per hari sebelum perang menjadi kurang dari 10, penurunan lebih dari 90 persen, kata Angkatan Laut Kerajaan Inggris pada hari Jumat (1/5).