JAKARTA, Radio Bharata Online - Ketika kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi fitur dalam kehidupan sehari-hari, tidak dapat dihindari bahwa olahraga paling populer di dunia juga tidak luput dari teknologi ini. Sepak bola pun merangkul AI dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, sehingga menghasilkan transformasi besar dalam permainan. Dari pencarian bakat hingga analisis data, dari pelatihan hingga pencegahan cedera, kehadiran AI dirasakan di seluruh dunia sepak bola.

Sebagai contoh dalam mencari bibit pemain. Metode pencarian bakat secara tradisional kini mendapat tantangan dengan alat bertenaga AI yang memungkinkan klub dapat menganalisis data dalam jumlah besar, termasuk statistik pemain, pergerakan pemain, pola passing, dan lain-lain.

Meskipun teknologi tetap menjadi bagian penting dalam olahraga, namun aspek kemanusiaan dalam proses pencarian bakat tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, meningkatnya penggunaan AI dalam pencarian bibit pemain secara bertahap mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan dalam proses tersebut.

Klub Liga Premier Brighton misalnya,  menjadi salah satu pionir dalam hal penggunaan AI untuk merekrut pemain. Berdasarkan laporan beberapa media di Inggris, klub menggunakan perangkat lunak, yang algoritmanya masih dirahasiakan, untuk mengidentifikasi pemain yang diremehkan dari seluruh dunia.

Keberhasilan pemain seperti Moises Caicedo, Kaoru Mitoma, antara lain, membuktikan efisiensi proses rekrutmen, yang sangat penting bagi klub untuk finis di posisi teratas berturut-turut di Liga Premier dan debut Eropa musim ini. .

Juara Eropa dua kali Chelsea juga menggunaka AI dalam pencarian bakat. Klub ini telah bekerja sama dengan perusahaan teknologi AiSCOUT untuk mencari dan merekrut pemain untuk akademinya.

Liverpool players during a training session at AXA Training Centre on October 19, 2023 in Kirkby, England. /CFP

Para pemain Liverpool saat sesi latihan di AXA Training Center pada 19 Oktober 2023 di Kirkby, Inggris. /CFP

Sementara itu Barca Innovation Hub di Barcelona berinvestasi pada startup teknologi olahraga dan meningkatkan cakupan penggunaan AI di dalam klub.  Bahkan pada tahun 2021, City Football Group, milik Manchester City, telah menunjuk seorang ilmuwan AI untuk klub sepak bola mereka.

Teknologi AI juga merevolusi cara pelatih sepak bola menilai kinerja pemain. Model AI yang mampu memproses sejumlah besar data dari sensor yang dapat dipakai, pemantauan GPS, dan rekaman pertandingan untuk memberikan wawasan akurat mengenai kinerja individu dan tim semakin banyak digunakan oleh klub sepak bola Eropa.

Data AI dapat digunakan oleh pelatih untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, menyesuaikan jadwal pelatihan, dan membuat keputusan taktis yang tepat di lapangan. Pelatih dapat merencanakan ke depan dan mengatur beban kerja pemain untuk mencegah kemunduran dengan menggunakan AI untuk memperkirakan masalah kelelahan dan cedera pemain.

Sistem ini kemudian dapat memberikan tindakan perbaikan untuk membantu atlet meningkatkan pola pergerakan mereka dan mengurangi kemungkinan cedera.

Awal tahun ini, FIFA dan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional, badan yang bertugas menyusun undang-undang olahraga, menyetujui penggunaan pelacak AI baru untuk sepatu sepak bola yang menghasilkan data kinerja, yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi olahraga Playermaker.

Statsports, perusahaan teknologi olahraga lain yang berspesialisasi dalam peralatan analisis pemain GPS, telah banyak bermitra dengan banyak tim sepak bola, termasuk Liverpool, Arsenal, Brasil, AS, dan lain-lain. Pada tahun 2018, mereka dilaporkan mendapatkan kesepakatan senilai $1 miliar dengan US Soccer. Pendanaan yang terlibat di sini menyoroti ruang lingkup dan potensi industri teknologi olahraga yang sedang berkembang karena semakin banyak tim olahraga yang menggunakan AI.

Morocco's defender Romain Ghanem Saiss (2L) scores a goal past Belgium's goalkeeper Thibaut Courtois (L), which was later disallowed after a VAR review during the 2022 FIFA World Cup Group F match between Belgium and Morocco at the Al-Thumama Stadium in Doha on November 27, 2022. /CFP

Bek Maroko Romain Ghanem Saiss (2K) mencetak gol melewati kiper Belgia Thibaut Courtois (Kiri), yang kemudian dianulir setelah tinjauan VAR selama pertandingan Grup F Piala Dunia FIFA 2022 antara Belgia dan Maroko di Stadion Al-Thumama di Doha pada 27 November 2022. /CFP

Teknologi AI juga diharapkan dapat memainkan peran yang lebih penting dalam wasit sepak bola di tahun-tahun mendatang. Dengan pemanfaatan teknologi garis gawang dan video asisten wasit (VAR), sepak bola pun tak segan-segan menggunakan bantuan teknologi untuk memandu ofisial pertandingan.

Meskipun profesi wasit kemungkinan besar tidak akan ketinggalan zaman dalam waktu dekat, kemungkinan besar akan ada peningkatan dbantuan AI dengan tujuan mengurangi kesalahan manusia.

Namun, kecepatan dan akurasi dalam pengambilan keputusan secara real-time tetap akan menjadi kunci. Teknologi offside semi-otomatis, misalnya, dapat membantu mempercepat panggilan offside pada Piala Dunia putra dan putri edisi terbaru.

Namun, seperti yang ditunjukkan VAR dalam beberapa tahun terakhir, intervensi teknologi dapat memengaruhi kecepatan permainan dan terkadang juga menghasilkan keputusan yang kontroversial.

Di Premier League musim ini, banyak manajer dibuat marah dengan intervensi VAR yang menghasilkan keputusan kontroversial, yang paling menonjol adalah pertandingan Tottenham-Liverpool yang menampilkan bos The Reds, Jurgen Klopp yang meminta tayangan ulang setelah kesalahan wasit.

Tanggung jawab tentunya ada pada otoritas olahraga untuk memastikan bahwa penggunaan AI di masa depan dalam memimpin pertandingan tidak mempengaruhi alur alami permainan dan tidak melampaui upaya mencegah kesalahan manusia.

Unsur kemanusiaan dalam sepak bola mulai dari pemain, pelatih, pramuka, hingga wasit inilah yang menjadikannya olahraga terpopuler di dunia. Para penggemar berharap bahwa penggunaan intervensi teknologi yang berlebihan tidak mengubah sebagian pemangku kepentingan manusia menjadi pengamat yang pasif.[CGTN]