BEIJING, Radio Bharata Online - Otoritas keamanan Tiongkok Kamis lalu menyoroti batasan baru dalam keamanan nasional, yaitu keamanan Kecerdasan Buatan (AI). Otoritas itu memperingatkan, bahwa risiko tersembunyi yang dimilikinya, kemungkinan besar akan sangat mengubah lanskap keamanan nasional Tiongkok saat ini, dalam waktu dekat.

Menurut sebuah artikel yang dirilis oleh Kementerian Keamanan Negara Tiongkok (MSS) pada hari Kamis, meskipun teknologi AI menciptakan peluang besar melalui penggunaannya yang luas di bidang keuangan, layanan kesehatan, transportasi, dan manufaktur, hal ini dapat meningkatkan risiko pencurian data, serangan siber, keamanan ekonomi, "keracunan data" dan keamanan militer.

MSS mengatakan, AI dapat digunakan untuk mencuri informasi sensitif dalam jumlah besar, dan membantu peretas dengan mudah melancarkan serangan yang ditargetkan dan terselubung, terhadap target tertentu kapan saja dan di mana saja.  

Sebagai “pengganti yang efisien” untuk tenaga kerja manusia, teknologi AI dapat berdampak pada keamanan ekonomi nasional, jaminan sosial, dan bahkan keamanan politik.

MSS menjelaskan, frasa "Keracunan data," mengacu pada tindakan memasukkan data berbahaya ke dalam kumpulan data pelatihan AI, untuk mengganggu operasi normal model analisis data. Contohnya "keracunan data" dalam sistem otomotif cerdas, bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas.  Atau contoh lain melalui saluran media, untuk mempengaruhi sentimen publik secara negatif.

MSS mengatakan, AI dapat digunakan sebagai Senjata Otonom yang Mematikan (Lethal Autonomous Weapons), menjadikan aksi militer lebih tepat sasaran, dan jangkauan serangan lebih luas dengan menghubungkan jaringan, pengambil keputusan, dan operator.

Pejabat keamanan nasional menekankan, bahwa undang-undang dan peraturan yang lebih jelas, harus segera disahkan untuk memastikan privasi dan keamanan data individu, dan mendesak perusahaan atau individu dalam industri AI, untuk secara sadar, meningkatkan keamanan mereka.  (Global Times)