Tiongkok, Bharata Online - Sebuah unit rudal darat-ke-udara di bawah Komando Teater Pusat Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army/PLA) Tiongkok baru-baru ini berhasil melakukan intersepsi serentak terhadap dua jenis rudal baru. Pencapaian itu menunjukkan kesiapan tempur 24 jam serta kemajuan dalam sistem pertahanan udara dan rudal negara tersebut.
Pertahanan udara dan rudal merupakan komponen kunci dari kapabilitas strategis Angkatan Udara. Seiring dengan pesatnya pengembangan berbagai jenis rudal, pesawat nirawak (drone), dan senjata hipersonik, operasi unit rudal darat-ke-udara mengalami perubahan mendasar, mengingat matra udara kini menempatkan bidang ini sebagai prioritas utama.
"Jika musuh meluncurkan rudal atau mengerahkan pesawat untuk melakukan serangan udara maupun penyusupan, unit rudal darat-ke-udara kamilah yang akan menjadi garda terdepan dalam menghadapinya," ujar Hu Yang, Prajurit dari Komando Teater Pusat Angkatan Udara PLA Tiongkok.
Ia menambahkan bahwa unit tersebut senantiasa berada dalam status siaga tempur 24 jam.
Unit rudal darat-ke-udara kini menghadapi jumlah target intersepsi yang terus bertambah serta tantangan yang kian kompleks. Target-target tersebut dapat melesat dengan kecepatan beberapa kilometer per detik, sehingga menyisakan jendela waktu intersepsi yang sangat singkat.
Menurut pihak unit, informasi kini dapat dibagikan di antara Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan unit-unit rudal darat-ke-udara. Pihak militer menyebut koordinasi luas ini sebagai "sistem dari berbagai sistem".
Bagi unit rudal darat-ke-udara yang dituntut untuk "melawan kecepatan dengan kecepatan", dukungan dari sistem terintegrasi ini memungkinkan deteksi yang lebih dini, sehingga jendela waktu intersepsi dapat diperluas menjadi sebuah peluang yang dapat direncanakan dan dikoordinasikan.
"Mulai dari menerima laporan target dari komando atas hingga menyelesaikan intersepsi, prosesnya mungkin hanya memakan waktu dua menit. Berkat sistem terintegrasi inilah kami bisa mengetahui keberadaan target lebih awal," jelas Hu.
Dalam sebuah misi verifikasi untuk jenis senjata baru, unit tersebut baru-baru ini berhasil mencegat dua target jenis baru.
Sebelum melaksanakan misi verifikasi tersebut, unit ini baru saja merampungkan latihan manuver selama 10 hari berturut-turut. Meski dalam kondisi kelelahan, para prajurit dipindahkan sejauh lebih dari seribu kilometer ke lokasi misi. Di sana, mereka bangun sejak pukul dua pagi untuk memeriksa berbagai parameter, dan pada pukul 05.00, mereka telah memasuki status kesiapan tempur tingkat satu.
"Semua orang lain telah dievakuasi, dan hanya personel di dalam kabin ini yang tetap tinggal. Kami sengaja menyetel pendingin ruangan ke suhu yang sangat rendah agar semua orang tetap terjaga," ujar Shi Shidong, Anggota Militer dari Komando Teater Pusat Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army/PLA).
Berkat dukungan sistem yang terintegrasi (sistem dalam sistem), para prajurit menerima peringatan dini mengenai rudal yang datang dari berbagai arah. Tiba-tiba, arah salah satu rudal berubah secara tajam, yang mengejutkan semua orang di sana.
"Rudal itu tiba-tiba menukik tajam. Jika Anda tidak bertindak dalam waktu dua detik, atau bahkan satu detik, dan tidak segera menembak, Anda bisa kehilangan kesempatan. Jadi, kami pun langsung memerintahkan peluncuran," kata Shi.
Lintasan rudal jenis baru tersebut sulit diprediksi, namun para prajurit bereaksi dengan cepat dan berhasil mencegatnya. Dalam misi pelatihan terkini, unit tersebut telah sukses mencegat berbagai jenis target dan menghancurkan beragam kategori rudal, serta mencatatkan sejumlah pencapaian perdana.
"(Pada parade-parade sebelumnya), kami telah menampilkan berbagai sistem pertahanan udara dan rudal yang canggih, seperti HQ-9B, HQ-9C, HQ-19, dan HQ-29, yang mampu membentuk sistem pertahanan udara dan rudal berlapis serta bertingkat. Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, efisiensi pencegatan dapat ditingkatkan lebih jauh lagi. Tersedia pula sistem berbasis laser dan gelombang mikro yang lebih canggih. Melalui penggunaan berbagai sarana secara terpadu, pesawat nirawak (drone) pun dapat dicegat secara efektif. Saat ini, bisa dikatakan bahwa kita telah berada di garda terdepan dalam jajaran sistem persenjataan rudal darat-ke-udara kelas dunia," ungkap Zhang Xuefeng, Pakar Militer.