Beijing, Bharata Online - Sekretaris Jenderal Dewan Energi Dunia, Angela Wilkinson, menyerukan kerja sama yang lebih besar, karena ketegangan geopolitik menambah ketidakpastian di pasar, dan memuji upaya Tiongkok dalam mendorong ketahanan energi global.

Berbicara kepada China Global Television Network, ia mengatakan bahwa meskipun situasi saat ini terasa sangat akut, namun tidak separah 20 tahun yang lalu dalam hal energi, karena pasokan energi semakin terdiversifikasi.

Ia menekankan bahwa kerja sama Tiongkok dengan negara lain telah membantu memperkuat keamanan energi dan keberlanjutan secara keseluruhan.

"Selama 20 tahun terakhir, kita selalu membicarakan perlunya menyeimbangkan keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Segitiga atau yang kita sebut trilema, bukan? Dan yang kita ketahui sekarang adalah bahwa pertimbangan-pertimbangan tersebut nyata, semakin tajam, dan terus berubah. Jadi, setelah dua dekade di mana orang-orang benar-benar ingin merumuskan kebijakan energi dalam konteks iklim dan kebutuhan akan energi bersih dan ramah lingkungan, kini kita berbicara tentang perlunya menyeimbangkan kembali kepemimpinan energi dunia. Kerja sama Tiongkok dengan banyak negara lain mengubah cara negara-negara tersebut dapat menyeimbangkan keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan," ujarnya.

Wilkinson menyoroti upaya Tiongkok untuk mendiversifikasi impor energinya dan membangun sistem tenaga listrik baru dengan kecepatan dan skala yang luar biasa. Ia mengatakan, Tiongkok tidak hanya mengelola keamanan sistemnya sendiri, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana negara tersebut dapat berkontribusi pada stabilitas global.

"Tiongkok telah mendiversifikasi impor yang dilakukannya. Mereka telah membangun sistem tenaga baru dengan cepat dan dalam skala besar. Dan saya pikir Tiongkok mengelola keamanan sistem secara keseluruhan dan mereka melihat bagaimana mereka berkontribusi pada keamanan dunia sehingga mereka dapat terus tumbuh dan berkembang. Anda tidak dapat tumbuh dan berkembang di dunia yang dilanda perang," katanya.

Wilkinson menggunakan analogi yang jelas untuk menjelaskan apakah krisis saat ini akan mempercepat transisi ke energi terbarukan atau memperkuat ketergantungan pada batu bara.

"Sistem tenaga baru dan sistem energi yang ada adalah nyamuk dan gajah. Kapasitas energi terbarukan saat ini seperti nyamuk. Sistem yang ada seperti gajah, tetapi nyamuk bergantung pada gajah untuk darahnya. Dan itu akan terus terjadi untuk waktu yang lama. Ini adalah sistem yang saling bergantung. Seiring dengan berkembangnya sistem tenaga baru di seluruh dunia, maka kita akan melihat penurunan atau pergeseran pasokan secara alami,"jelasnya.

Wilkinson juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap umat manusia.

Ia mengatakan, sebagai spesies secara keseluruhan, manusia telah melupakan betapa bergantungnya mereka pada energi. Dan ini bukan hanya tentang teknologi, uang, industri, atau komoditas, tetapi sebenarnya tentang fondasi modern dari semua masyarakat.