JAKARTA, Radio Bharata Online - Perusahaan teknologi Palo Alto Networks menilai, industri kendaraan pintar wajib menjaga keamanan siber, seiring dengan kendaraan bermotor yang semakin canggih dan terkoneksi ke internet.
Opsir keamanan Palo Alto Networks, Alex Nehmy dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta Selasa (27/6) mengatakan, transformasi digital, penerapan teknologi generasi terbaru, dan konektivitas pada kendaraan roda empat, telah membuka beragam celah kerentanan, yang dapat dieksploitasi oleh para pelaku kejahatan. Menurut Alex, keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama dalam memastikan keamanan kendaraan. Keamanan siber otomotif merupakan tantangan, bagi produsen industri kendaraan bermotor dengan teknologi pintar yang semakin canggih, serta kebutuhan akan pemrograman khusus dan koneksi internet.
Kendaraan pintar yang terhubung ke internet, telah memperluas kemungkinan potensi serangan terhadap kendaraan itu sendiri. Potensi risiko keamanan kendaraan pintar itu meliputi; data yang dikumpulkannya, jaringan, serta sistem cloud yang mendukungnya.
Menurut Laporan Ransomware and Extortion Report 2023 yang dirilis oleh Unit 42 dari Palo Alto Networks, manufaktur dan teknologi canggih menempati posisi lima teratas, sebagai industri yang paling rentan menjadi target serangan pemerasan di kawasan Asia Pasifik dan global.
Produsen dan distributor perlu mengomunikasikan langkah-langkah penjagaan keamanan siber, dan pemeliharaan pada sistem yang penting bagi pemilik mobil secara konsisten.
Langkah-langkah itu termasuk menggunakan kata sandi yang unik dan rumit untuk kendaraan, dan aplikasi pelacakan GPS, serta secara teratur memperbarui perangkat lunak kendaraan, yang umumnya dilengkapi patch terbaru, sehingga dapat melindungi kendaraan dari kemungkinan ancaman siber.
Sementara bagi pemilik kendaraan pintar, mereka sebaiknya memberi perhatian ekstra pada kerentanan tertentu dari kendaraan pintar, seperti sistem infotainment, unit kontrol elektronik (ECU), aplikasi dan port mobil, aplikasi pembuka pintu mobil tanpa kunci (keyless entry), serta risiko kemampuan mengakses kendaraan menggunakan kredensial pemilik sebelumnya. (ANTARA)