Beijing, Radio Bharata Online - Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengatakan pada hari Rabu (18/10) bahwa kerja sama yang saling menguntungkan adalah cara yang pasti untuk sukses dalam meluncurkan inisiatif-inisiatif besar yang bermanfaat bagi semua pihak.

Xi mengatakan Tiongkok hanya dapat melakukannya dengan baik ketika dunia melakukannya dengan baik, dan ketika Tiongkok melakukannya dengan baik, dunia akan menjadi lebih baik lagi. 

Hal itu ia nyatakan ketika menyampaikan pidato utama pada upacara pembukaan Forum Sabuk dan Jalan untuk Kerjasama Internasional (BRF) ketiga yang secara resmi dimulai pada hari Rabu (18/10) pagi di Beijing.

Menurutnya, melalui kerja sama Sabuk dan Jalan, Tiongkok membuka pintunya lebih lebar lagi kepada dunia, dengan wilayah pedalamannya yang berubah dari "terbelakang" menjadi "terdepan", dan wilayah pesisir yang semakin terbuka, dan menambahkan bahwa pasar Tiongkok menjadi semakin terintegrasi dengan pasar global.

"Tiongkok telah menjadi mitra dagang utama bagi lebih dari 140 negara dan wilayah serta menjadi sumber investasi utama bagi lebih banyak negara. Baik investasi Tiongkok di luar negeri maupun investasi asing di Tiongkok telah meningkatkan persahabatan, kerja sama, kepercayaan diri, dan harapan," kata Xi.

Dia menunjukkan bahwa ketika negara-negara merangkul kerja sama dan bertindak bersama, jurang yang dalam dapat diubah menjadi jalan raya, negara-negara yang terkurung daratan dapat menjadi terhubung dengan daratan, dan tempat yang terbelakang dapat diubah menjadi tempat yang makmur.

Ia meminta negara-negara yang memimpin dalam pembangunan ekonomi untuk membantu mitra-mitra mereka yang belum mengejar ketertinggalan.

"Kita semua harus memperlakukan satu sama lain sebagai teman dan mitra, saling menghormati dan mendukung, serta saling membantu untuk meraih kesuksesan. Seperti kata pepatah, ketika Anda memberikan bunga mawar kepada orang lain, wanginya akan melekat di tangan Anda. Dengan kata lain, membantu orang lain berarti membantu diri sendiri. Memandang perkembangan orang lain sebagai ancaman atau menganggap saling ketergantungan ekonomi sebagai risiko tidak akan membuat hidup seseorang menjadi lebih baik atau mempercepat perkembangannya," jelas Xi.

Xi mengatakan semangat Jalur Sutra yang mengedepankan perdamaian dan kerja sama, keterbukaan dan inklusivitas, saling belajar dan saling menguntungkan merupakan sumber kekuatan terpenting bagi kerja sama Sabuk dan Jalan.

Menurut Xi, para perintis rute sutra kuno dikenang sebagai utusan yang ramah yang memimpin kafilah unta dan kapal layar yang sarat dengan barang-barang, bukan sebagai penakluk dengan kapal perang, senjata, kuda, atau pedang.

"Kerja sama Sabuk dan Jalan didasarkan pada keyakinan bahwa api akan berkobar jika semua orang menambahkan kayu ke dalam api dan bahwa dukungan timbal balik dapat membawa kita melangkah lebih jauh. Kerja sama semacam itu berusaha untuk memberikan kehidupan yang baik tidak hanya untuk orang-orang di satu negara, tetapi juga untuk orang-orang di negara lain. Kerja sama ini mendorong konektivitas, saling menguntungkan, pembangunan bersama, kerja sama, dan hasil yang saling menguntungkan. Konfrontasi ideologi, persaingan geopolitik dan politik blok bukanlah pilihan bagi kami. Apa yang kami lawan adalah sanksi sepihak, paksaan ekonomi dan pemisahan dan gangguan rantai pasokan," paparnya.

Dengan menggarisbawahi perlunya menyadari tanggung jawab terhadap sejarah, terhadap rakyat dan terhadap dunia, Xi menyerukan upaya bersama untuk mengatasi berbagai risiko dan tantangan global, serta mewujudkan masa depan yang cerah berupa perdamaian, pembangunan, kerja sama, dan saling menguntungkan bagi generasi mendatang.

Perwakilan dari lebih dari 140 negara dan lebih dari 30 organisasi internasional berkumpul di ibu kota Tiongkok untuk menghadiri acara dua hari yang dimulai pada hari Selasa (17/10).

Forum tersebut merupakan acara diplomatik terpenting yang diselenggarakan oleh Tiongkok sepanjang tahun ini, dan merupakan perayaan yang paling penting untuk ulang tahun ke-10 Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI).

BRF yang pertama kali diadakan di Beijing pada tahun 2017, dan edisi kedua berlangsung pada tahun 2019.

Sejak BRI diusulkan oleh Presiden Xi satu dekade yang lalu, lebih dari 150 negara dan lebih dari 30 organisasi internasional telah menandatangani lebih dari 230 dokumen kerja sama.