Jeddah, Radio Bharata Online - Para pakar dan cendekiawan menyambut hangat pidato utama yang disampaikan oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada Belt and Road Forum for International Cooperation (BRF) yang ketiga. Xi mengatakan bahwa Tiongkok telah membentuk platform yang efisien untuk berbagi pengalaman pembangunannya secara luas dan mengatasi tantangan global melalui Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI).
Dalam pidatonya pada upacara pembukaan BRF pada hari Rabu (18/10) di Beijing, Xi mengatakan bahwa BRI bertujuan untuk meningkatkan kebijakan, infrastruktur, perdagangan, dan konektivitas antar manusia, sambil menyuntikkan dorongan baru ke dalam ekonomi global, menciptakan peluang baru untuk pembangunan global, dan membangun sebuah platform baru untuk kerja sama ekonomi internasional.
Para ahli mengatakan bahwa delapan langkah yang diumumkan oleh Presiden Xi Jinping untuk mendukung pengembangan BRI yang berkualitas tinggi diharapkan dapat lebih mendorong konektivitas dan pembangunan bersama di antara negara-negara.
"Saya sepenuhnya setuju dengan pandangan Presiden Xi Jinping. BRI berasal dari Tiongkok, dan kontribusi rata-rata Tiongkok terhadap pertumbuhan ekonomi global lebih dari 30 persen dalam satu dekade terakhir bukanlah suatu kebetulan," ujar Andrey Denisov, Wakil Ketua Pertama Komite Dewan Federasi Rusia untuk Urusan Luar Negeri.
"Pengumuman delapan langkah oleh Presiden Xi Jinping dalam Forum Internasional Prakarsa Sabuk dan Jalan sebenarnya merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil dari prakarsa ini. Delapan langkah tersebut sebenarnya (sejalan) dengan banyak tujuan strategis Saudi dalam Saudi 2030. Dan sebenarnya ada banyak bidang yang dapat dikerjakan oleh Arab Saudi dan Tiongkok. Terutama dengan tujuan Saudi untuk meningkatkan partisipasinya dalam rantai pasokan dan industri logistik. Prakarsa Sabuk dan Jalan, saat ini, adalah rencana kerja sama strategis untuk meningkatkan komunikasi dan memperdalam kerja sama antar negara," jelas ekonom Arab Saudi, Bandar Aljueed.
Menurut para ahli dan cendekiawan internasional, pembangunan bersama BRI telah membawa peluang, pembangunan dan kemakmuran bagi dunia, dan akan terus membantu semua negara untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
"Presiden Xi Jinping menyampaikan pidato bersejarah di BRF ketiga. Orang-orang di seluruh dunia yang mendengarkan pidato tersebut memberikan tanggapan positif terhadap pidatonya, dan mereka berharap dapat berpartisipasi dalam proyek-proyek yang diusulkan oleh Presiden Xi. Mereka berharap Tiongkok dapat terus berkontribusi kepada dunia dengan multilateralisme, tanpa memaksakan kondisi ideologis, merangkul komunitas internasional, dan mencari solusi untuk isu-isu global. Ini adalah Prakarsa Sabuk dan Jalan saat ini, dan di era baru, Tiongkok diharapkan dapat terus bergerak maju bersama dengan mitra internasional dalam kerja sama," ujar Patricio Giusto, Direktur Eksekutif Sino-Argentina Observatory of Strategic Relationship.
"BRI diusulkan pada tahun 2013, dan para pemimpin Tiongkok juga telah mengajukan berbagai inisiatif seperti Inisiatif Pembangunan Global dan menyelenggarakan acara-acara seperti Konferensi Dialog Peradaban Asia. Melalui berbagai inisiatif dan acara ini, Tiongkok telah membangun platform yang efisien untuk berbagi pengalaman pembangunannya secara luas dengan para pelaku bisnis," ujar Nasser Bouchiba, Presiden Asosiasi Kerjasama Pembangunan Afrika Tiongkok (ACCDA).
BRF ketiga, yang diselenggarakan pada hari Selasa (17/10) hingga Rabu (18/10) lalu di ibukota Tiongkok, merupakan acara diplomatik terpenting yang diselenggarakan oleh Tiongkok sepanjang tahun ini, dan merupakan perayaan yang paling penting untuk ulang tahun ke-10 BRI.
Bertemakan "Kerja Sama Sabuk dan Jalan yang Berkualitas Tinggi: Bersama untuk Pembangunan dan Kemakmuran Bersama", forum dua hari ini menampilkan satu konferensi CEO, tiga forum tingkat tinggi, dan enam forum tematik.
BRF pertama kali diadakan di Beijing pada tahun 2017, dan edisi kedua diadakan pada tahun 2019.