TORONTO, Radio Bharata Online - Ilmuwan komputer dan psikolog kognitif dari Kanada, Geoffrey Hinton, yang dikenal sebagai "Godfather of Artificial Intelligence", baru-baru ini memperingatkan, bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi serius untuk menjadi terlalu pintar dan mengambil alih kendali.

Dia yakin, Al dapat belajar, membuat pilihan, dan bahkan mendapatkan kesadaran diri.  Tetapi menurutnya, AI belajar dengan cara yang sangat berbeda dari manusia, sehingga berpotensi menimbulkan tantangan.

Dikutip dari tayangan acara "60 Menit" CBS News, Hinton khawatir tentang Al yang bertindak mandiri, dan menjadi makhluk hidup.

Menurutnya, umat manusia tidak menyadari akan potensi bahaya dari AI.  Hinton juga berujar bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, ada sesuatu yang lebih cerdas dari manusia. Dia menjelaskan, salah satu cara AI lepas kendali adalah dengan menulis kode komputernya sendiri, untuk memodifikasi dirinya sendiri. Dan itu adalah sesuatu yang harus dikhawatirkan secara serius.

Dia melanjutkan, AI bisa dengan mudah memanipulasi orang, dan hal ini akan sangat baik dalam meyakinkan orang, karena mereka telah belajar dari semua buku dan novel yang pernah ditulis, dan semua rahasia politik.  AI akan mengetahui semua hal itu, dan mereka akan tahu bagaimana menggunakannya.

Dalam 10 tahun terakhir, Hinton telah menghabiskan waktunya untuk Google Brain dan Universitas Toronto, sebelum secara terbuka mengumumkan pengunduran diri dari Google pada Mei 2023, dengan alasan kekhawatiran akan risiko teknologi AI.

Sebelumnya Hinton berhipotesa bahwa diperlukan waktu paling tidak 50 tahun bagi AI untuk mencapai tahap kecerdasannya seperti saat ini.

Namun Hinton juga mengatakan, AI memberikan manfaat besar bagi layanan kesehatan.  Kemampuan AI sudah sebanding dengan ahli radiologi, dalam memahami apa yang terjadi pada gambar medis, dan ini akan sangat bagus dalam merancang obat.

Namun ia memperingatkan AI dapat merebut pekerjaan manusia, dengan risiko adanya sekelompok orang yang menganggur dan tidak terlalu dihargai, karena apa yang mereka dulu lakukan, kini dilakukan oleh mesin. Risiko lain yang ia khawatirkan adalah berita palsu, bias yang tidak diinginkan dalam pekerjaan dan kepolisian, serta robot otonom di medan perang. (Korja)