Beijing, Radio Bharata Online - Seorang pakar Tiongkok mengatakan bahwa serangan pesawat tak berawak terhadap pos militer AS di Tower 22 di Rukban, Yordania timur laut mungkin akan memicu pembalasan militer dari Amerika Serikat.

Para pejabat AS mengatakan pada hari Minggu (28/1) lalu bahwa tiga tentara AS tewas dan sedikitnya 34 lainnya terluka dalam serangan pesawat tak berawak tersebut.

Presiden AS, Joe Biden, mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok militan radikal yang didukung oleh Iran, namun Iran membantah keterlibatannya dalam serangan tersebut.

Dalam sebuah wawancara online dengan China Central Television (CCTV), Niu Xinchun, seorang profesor dari China-Arab Research Institute di Universitas Ningxia, mengatakan bahwa kemungkinan besar Amerika Serikat akan melakukan pembalasan militer terhadap Iran.

"Setelah kejadian tersebut, Amerika Serikat langsung menuduh milisi yang didukung Iran sebagai pelaku serangan. Namun hal itu langsung dibantah oleh Iran. Iran mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan serangan tersebut. Tapi, Amerika Serikat selalu meyakini bahwa Iran terlibat dalam semua serangan milisi terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah selama beberapa tahun terakhir," kata Niu.

Niu mengatakan bahwa tingkat pasti dari kemungkinan pembalasan militer AS masih belum diketahui. Jika situasi terus memburuk, pada akhirnya bisa mengarah pada serangan terhadap Iran sendiri.

"Jika situasi semakin memburuk, militer AS dapat menyerang target militer Iran di luar Iran, seperti di Teluk Persia atau di daerah lain di Timur Tengah, sebuah langkah yang belum pernah dilakukan Amerika Serikat sejak tahun 1988. Tentu saja, tingkat pembalasan tertinggi yang mungkin dilakukan Amerika Serikat adalah serangan terhadap Iran itu sendiri. Ini adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan Amerika Serikat sejak krisis penyanderaan pada tahun 1980," katanya.

"Pembalasan seperti apa yang mungkin dilakukan Amerika Serikat di masa depan masih belum jelas. Namun satu hal yang pasti bahwa Amerika Serikat ingin melakukan pembalasan yang kuat untuk meredakan tekanan yang meningkat di dalam negeri dan untuk menghalangi milisi di Irak dan Suriah. Sementara itu, Amerika Serikat tidak ingin situasi meningkat. Jadi pada akhirnya Amerika Serikat mungkin harus memilih salah satu dari keduanya," kata Niu.