WASHINGTON, Radio Bharata Online - Para seismolog telah mengenali sejak tahun 1970-an, bahwa dua gumpalan misterius seukuran benua berada di bagian terdalam mantel bumi, satu di bawah Afrika dan yang lainnya di bawah kawasan Pasifik Selatan.
Para ilmuwan pada hari Rabu mengatakan, gumpalan ini, yang lebih padat dibandingkan material di sekitarnya, mungkin merupakan sisa-sisa bencana alam di awal sejarah bumi, yang diperkirakan menjadi asal mula bulan, ketika tabrakan antara bumi purba dengan objek seukuran Mars yang disebut Theia.
Dampak raksasa ini, yang menurut penelitian terjadi lebih dari 4,4 miliar tahun yang lalu, melontarkan batuan cair ke luar angkasa yang mengorbit Bumi, dan secara perlahan menyatu membentuk bulan.
Namun bongkahan Theia yang tersisa mungkin masih tetap berada di dalam Bumi, tenggelam ke lokasi tepat di atas inti bola besi dan nikel yang sangat panas di planet ini.
Para peneliti menjalankan simulasi komputer untuk memeriksa peristiwa tumbukan, sifat geofisika material yang mungkin membentuk Theia, dan evolusi mantel bumi. Disebut mantel karena merupakan lapisan terluas yang menyusun struktur interior planet kita, dengan ketebalan sekitar 1.800 mil (2.900 km).
Berdasarkan simulasi ini, mereka berasumsi bahwa sebagian besar materi Theia terserap ke dalam Bumi, membentuk gumpalan, sedangkan sisa puingnya membentuk Bulan.
Simulasi menunjukkan, bagian bawah gumpalan ini berada 2.900 kilometer di bawah kita berdiri. Kedua gumpalan tersebut berukuran sekitar 2% dari massa bumi. Gumpalan Theia terdeteksi oleh seismologi, karena gelombang seismik bergerak lebih lambat di kedua wilayah ini dibandingkan dengan mantel di sekitarnya.
Jika kesimpulan penelitian ini benar, gumpalan ini akan mewakili bukti yang sulit dipahami di Bumi, mengenai hipotesis tabrakan Theia dan pembentukan bulan. (Reuters)