NANNING, Bharata Online - Selama berabad-abad, wilayah pedalaman barat daya Tiongkok terkunci oleh bentang alam yang luas. Untuk menyentuh lautan dan mengirimkan komoditasnya ke pasar internasional, kapal-kapal kargo harus memutar ratusan kilometer ke arah timur. Menghabiskan waktu, menguras biaya, dan tidak efisien. Namun, peta perdagangan global hari ini telah berubah. Kanal Pinglu adalah jangkar baru bagi New International Land-Sea Trade Corridor. Dari Nanning menuju Singapura, dari pedalaman Asia menuju jantung perdagangan maritim dunia, konektivitas kini menjadi semakin tanpa batas.

Setelah pembangunan selama kurang lebih empat tahun sejak 2022, Tiongkok resmi membuka Kanal Pinglu pada 16 September 2026.  Kanal ini membentang di Guangxi sepanjang 134,2 kilometer dengan nilai proyek sekitar 72,7 miliar yuan (setara Rp175 triliun), menghubungkan Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu, menuju laut lepas untuk pelayaran Internasional. Akses ini secara efektif memangkas jarak tempuh kargo dari wilayah pedalaman Tiongkok barat daya menuju laut lepas hingga lebih dari 560 kilometer.

Proyek strategis ini menghubungkan provinsi-provinsi pedalaman seperti Yunnan dan Guizhou, bahkan pusat-pusat industri di pedalaman yang lebih jauh, yang memiliki pasar di Asia Tenggara.  Pemerintah Tiongkok mengklaim kanal ini dapat memangkas biaya logistik sebesar 18 %–30 % pada rute‑rute yang terhubung.

Kepala Perencanaan Biro Sumber Daya Alam Kota Nanning, Zhou Han kepada para Jurnalis ASEAN MEDIA COOPERATION termasuk perwakilan dari Bharata Online menjelaskan, arti penting terbesar dari Kanal Pinglu adalah mendorong perdagangan wilayah Guangxi, dan meningkatkan volume kontainer di Pelabuhan Qinzhou.  Kehadiran kanal ini membuka jalur akses laut baru bagi transportasi air di wilayah Barat Daya Tiongkok. Bertempat di Gedung Nanning Urban Planning Exhibition Center, Zhou mengatakan, efisiensi tersebut diharapkan meningkatkan daya saing produk industri pedalaman Tiongkok di pasar Asia Tenggara. Kanal Pinglu memberi Tiongkok akses langsung ke Teluk Tonkin, sehingga kapal‑kapal yang keluar dari mulut kanal, langsung memasuki jalur maritim menuju Asia Tenggara.

Untuk diketahui, Tiongkok dan Negara-negara Asia Tenggara telah lama menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut. Nilai perdagangan kedua pihak terus melampaui rekor dari tahun ke tahun. Pemerintah Tiongkok mengeklaim kanal ini akan memangkas biaya logistik sebesar 18% hingga 30% pada rute-rute terkait.

Melalui kanal Pinglu, sebenarnya Pemerintah Tiongkok tidak hanya membangun jalur air, tetapi juga menetapkan Sabuk Ekonomi Kanal Pinglu (Pinglu Canal Economic Zone) untuk mentransformasi kota-kota di sekitarnya menjadi pusat industri modern terintegrasi.  Zona industri besar dibangun tepat di sekitar pelabuhan pesisir untuk mempersingkat jarak dari pabrik ke kapal.

Kota Nanning sendiri sebagai titik awal (hulu) dari kanal raksasa ini, menerima dampak transformasi paling signifikan. Pembukaan Kanal Pinglu mengubah Nanning dari kota pedalaman yang terkurung
daratan (landlocked city) menjadi kota pelabuhan internasional yang terhubung langsung ke laut lepas. (Bharata Online)