BEIJING, Radio Bharata Online - Peningkatan kualitas udara dan pengurangan emisi gas rumah kaca Tiongkok yang berkelanjutan, telah menguntungkan tidak hanya bagi negara itu sendiri, tetapi juga seluruh Asia dan dunia.

Para cendekiawan asing pada hari Senin di Beijing, menyerukan lebih banyak kisah sukses seperti "China Blue" untuk disebarkan ke seluruh kawasan Asia, dan membantu negara-negara mengurangi polusi udara.

Perwakilan dari otoritas dan lembaga penelitian dari Tiongkok, Indonesia, Vietnam, Thailand, Mongolia, Filipina, yang berjumlah hampir 50 peserta, menghadiri acara tersebut.

Pada upacara pembukaan Asian Regional Exchange for Clean Air (Pertukaran Regional Asia untuk Udara Bersih), yang diadakan di Beijing pada hari Senin, Lei Yu, direktur Institut Perencanaan Lingkungan Atmosfer, Akademi Perencanaan Lingkungan Tiongkok dari Kementerian Ekologi dan Lingkungan, mengatakan, bahwa sejak penerapan Rencana Aksi Pencegahan dan Pengendalian Polusi Udara pada tahun 2013, Tiongkok telah menerapkan serangkaian langkah, termasuk penyesuaian struktur energi, restrukturisasi industri, dan proyek pengurangan emisi utama. Upaya ini telah menghasilkan kemajuan yang signifikan dan pencapaian penting, dalam pencegahan dan pengendalian polusi udara.

Glynda Bathan-Baterina, wakil direktur eksekutif Clean Air Asia, sebuah LSM internasional, mengatakan, Beijing-Tianjin-Hebei terkenal karena berhasil mengubah kabut asap menjadi langit biru.

Baterina mencatat, bahwa Tiongkok telah mencapai pengurangan PM2.5 sebesar 40 persen hanya dalam tujuh tahun, padahal prestasi serupa yang dicapai oleh AS, membutuhkan waktu tiga dekade.  Menurut Baterina, Asia membutuhkan lebih banyak kisah sukses seperti ini, dan menyebarkannya ke seluruh wilayah.

Sementara itu Ririn Radiawati Kusuma, direktur Clean Air Asia Indonesia, kepada Global Times mengatakan, bahwa di Indonesia, tantangan utama terkait polusi udara adalah kurangnya komitmen pemerintah, dan lemahnya penegakan hukum. (Global Times)