JAKARTA, Radio Bharata Online - Eskalasi di wilayah Semenanjung Korea masih memanas, disebabkan oleh langkah Korea Utara (Korut) yang menembakan hingga 200 artileri ke wilayah dekat Korea Selatan (Korsel) pada Jumat lalu. Tindakan Pyongyang ini mendorong Seoul melakukan evakuasi warga dan latihan menembak dadakan.
Menurut laporan Reuters, Pyongyang masih meluncurkan puluhan senjata roketnya pada hari Sabtu dan Minggu. Korut mengklaim latihan peluncuran itu tidak menimbulkan ancaman terhadap Korsel, karena penembakan tersebut sejajar dengan perbatasan.
Kim Yo Jong, saudari dari Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan KCNA pada hari Senin mengatakan, Tentara Rakyat Korea (KPA) akan segera melancarkan serangan militer, jika musuh melakukan provokasi sekecil apa pun.
Sementara Korsel menanggapi latihan Korut itu dengan melakukan latihan menembak dadakan. Namun kantor berita Yonhap mengatakan, tidak ada rencana untuk melakukan hal serupa, setelah penembakan Korut pada hari Sabtu dan Minggu
Baik Korut maupun Korsel sebenarnya secara resmi masih berperang. Ini dikarenakan Perang Korea pada tahun 1953, berakhir dengan cara gencatan senjata, bukan dengan perjanjian perdamaian secara formal.
Panasnya kedua Korea kali ini, muncul setelah latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korsel di dekat perbatasan.
Korut menyebut latihan itu sebagai manuver perang yang sembrono. Pyongyang juga mengolok-olok Seoul karena mendukung ambisi Washington, ketika Korsel tidak berpeluang untuk menang atau untuk bertahan hidup. (CNBC)