Sanya, Bharata Online - Pada hari kedua Tur Media "China Walk: Vibrant Hainan" 2026, Selasa (20/10), pihak penyelenggara mengajak perwakilan media dan jurnalis internasional dari berbagai negara mitra, termasuk kawasan ASEAN mengunjungi Sanya West Island Ocean Cultural Tourism Area dan Sanya Yazhou Bay Science and Technology City.
Di lokasi pertama, para peserta berkesempatan menelusuri dua destinasi wisata yang dimiliki di Sanya, tepatnya yang ada di Pulau Xidao: Desa Nelayan (West Island Fishing Village) yang usianya telah mencapai lebih dari 400 tahun, dan "Golden Bull Looking at the Sea", patung berbentuk banteng berwarna emas megah yang berdiri kokoh menghadap ke hamparan Laut Tiongkok Selatan.
Menurut Isa Zubir, Jurnalis CGTN Malaysia, Pulau Xidao tak hanya memiliki pemandangan indah yang memanjakan mata, tetapi juga budaya otentik yang masih terus dipelihara hingga saat ini.
"Jadi saya kira ini satu situasi yang keren banget, karena selain kita dapat melihat keindahan pulaunya, kita juga dapat mendekati masyarakat-masyarakat lokal yang ada di sini serta mempelajari apa yang mereka lakukan dari segi budaya, dari segi barang-barang unik ataupun spesial yang dihasilkan oleh masyarakat setempat dan juga membantu mata pencaharian masyarakat di sini," ungkapnya.
Adapun di lokasi kedua, para jurnalis berkesempatan mengunjungi tiga perusahaan teknologi papan atas Tiongkok: BGI Group, Nanfan Silicon Valley, dan Zoellent Technology. Di sana, mereka ditunjukkan bagaimana Tiongkok telah berhasil mendesain benih, khususnya padi, agar dapat dipanen secara maksimal.
"Singkatnya, kami menggunakan AI untuk mendesain benih. Ini bukan fiksi ilmiah. Industri benih adalah chip pertanian," ujar Dr. Guangyu Liu, Peneliti di BGI-Research.
"Benih yang baik menentukan seberapa banyak petani dapat memanen. Tetapi pemuliaan tradisional seperti berjudi dengan pengalaman dan keberuntungan. Dibutuhkan 8 hingga 10 tahun untuk mengembangkan satu varietas, dan sebagian besar perkiraan meleset," lanjutnya.