Dubai, Radio Bharata Online - Lantaran banyak negara berkembang yang menjadi korban langsung dari perubahan iklim, dunia harus memberikan perhatian lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber pendanaan yang cukup untuk membantu mereka, menurut seorang utusan dari Tiongkok.
Pada hari Jum'at (8/12), sebuah acara sampingan dari sesi ke-28 Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (COP28), yakni seminar tingkat tinggi kerja sama Selatan-Selatan dalam mengatasi tantangan iklim, diadakan di Paviliun Tiongkok.
Pada jeda seminar, Utusan Khusus Tiongkok untuk Perubahan Iklim, Xie Zhenhua, menekankan pentingnya kerja sama global dalam membangun sistem peringatan dini tentang bencana iklim ketika ia berbicara dengan Cyrille Honore, Wakil Direktur Departemen Layanan Organisasi Meteorologi Dunia.
"Sangatlah penting untuk membangun sistem peringatan dini dengan kolaborasi global, terutama dengan negara-negara berkembang. Ini adalah dukungan terbesar untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi negara-negara berkembang," kata Xie.
Dia kemudian menunjukkan bahwa dana yang cukup diperlukan untuk memberikan dukungan yang cukup bagi negara-negara yang paling rentan.
"Sekarang orang berbicara tentang aliran dana. Tapi, kami lebih peduli dengan sumber pendanaan, karena kami perlu mengumpulkan dukungan sebanyak mungkin bagi negara-negara berkembang untuk membuat kue yang lebih besar. Setelah itu, kami dapat mempertimbangkan untuk mendistribusikan dana tersebut ke negara-negara yang memiliki lingkungan yang rapuh, seperti negara-negara kepulauan kecil, negara-negara yang paling tidak berkembang, dan blok Afrika. Jika kita hanya berbicara tentang aliran dana dan bukan sumber dana, itu berarti kue tersebut tidak cukup besar untuk didistribusikan ke negara-negara yang paling rentan. Oleh karena itu, kita harus membuat kue yang lebih besar terlebih dahulu dan kemudian berpikir untuk mendistribusikan uang tersebut ke negara-negara yang membutuhkan," tegas Xie.
COP28, yang berlangsung dari tanggal 30 November hingga 12 Desember 2023 di Dubai, Uni Emirat Arab, telah menyambut lebih dari 70.000 delegasi dari seluruh dunia dalam upaya untuk mencari solusi dunia untuk masalah iklim yang mendesak yang dihadapi planet ini dan umat manusia.