Guizhou, Bharata Online - Sebuah wilayah pegunungan yang dulunya miskin di Provinsi Guizhou, Tiongkok Barat Daya, kini memproduksi satu dari setiap tujuh gitar di dunia, dengan lebih dari 140 produsen dan pemasok yang mengekspor produk ke lebih dari 40 negara dan wilayah.

Terletak jauh di pegunungan, Kabupaten Zheng'an di Kota Zunyi, Guizhou, dulunya merupakan salah satu daerah termiskin di provinsi tersebut, namun kini telah bertransformasi menjadi pusat pembuatan gitar berskala global yang tak terduga.

Zheng'an tidak memiliki pelabuhan, tidak memiliki keunggulan sumber daya kayu, maupun basis industri, bahkan menjadi kabupaten terakhir di Guizhou yang berhasil keluar dari kemiskinan. Namun kini, satu dari setiap tujuh gitar diproduksi di sana.

Kisah ini bermula dari sebuah eksodus. Sejak tahun 1980-an, banyak penduduk meninggalkan Zheng'an untuk mencari pekerjaan di provinsi pesisir Guangdong. Beberapa di antaranya terjun ke industri gitar. Di antara mereka terdapat Zheng bersaudara, yang pada tahun 2013 membawa kembali lini produksi mereka ke kampung halaman dan mendirikan Zunyi Shenqu Musical Instrument Manufacturing, pabrik gitar besar pertama di Zheng'an.

Pejabat setempat kemudian meminta sang pendiri, Zheng Chuanjiu, untuk memperkenalkan mereka kepada kenalannya di industri tersebut dan mengundang mereka berkunjung ke Zheng'an guna menjajaki peluang pengembangan industri pembuatan gitar di wilayah itu.

"Setelah kami beroperasi hampir setahun, pejabat setempat meminta saya memperkenalkan mereka kepada orang-orang yang saya kenal di industri ini dan mengundang mereka berkunjung ke sini. Saya pun turut serta, menceritakan tentang kampung halaman saya dan potensi yang dimilikinya. Dua tahun kemudian, mereka pun datang ke sini untuk mendirikan pabrik. Begitu bisnis-bisnis awal itu menunjukkan keberhasilan, pihak lain mulai tertarik. Warga asli Zheng'an yang sebelumnya mendirikan pabrik di Guangzhou, serta pengusaha dari Fujian, Taiwan, Sichuan, dan Hunan, mulai memindahkan bisnis mereka ke sini," ujar Zheng.

Satu pabrik menarik kehadiran pabrik lainnya. Industri komponen pendukung seperti senar, tuning machine, pickup, serta kotak dan kemasan pun turut hadir. Sebuah lini produksi berkembang menjadi rantai pasok, dan rantai pasok tersebut kemudian tumbuh menjadi sebuah industri utuh.

Kini, Zheng'an menjadi rumah bagi lebih dari 140 produsen dan pemasok gitar. Bersama-sama, mereka memproduksi lebih dari 2,5 juta instrumen setiap tahun, melakukan ekspor ke lebih dari 40 negara dan wilayah, serta mendukung hampir 15.000 lapangan kerja lokal.

"Zheng'an selama ini dikenal sebagai daerah asal tenaga kerja migran. Banyak penduduk di sini yang membutuhkan pekerjaan. Kami melatih mereka membuat gitar, sehingga mereka memiliki alasan untuk tetap tinggal. Begitu kami memiliki tenaga kerja terampil yang memadai, semakin banyak pemilik pabrik yang akan menyadari bahwa mereka bisa datang ke sini, merekrut pekerja berpengalaman, dan memulai produksi dengan cepat," ujar Zheng.

Namun, wilayah ini tidak puas hanya dengan menjadi pusat manufaktur kontrak. Tiongkok masih mengimpor sebagian besar kayu berkualitas tinggi (tonewood) yang digunakan untuk gitar kelas menengah dan atas, sehingga produsen lokal mulai menjajaki alternatif lain. Bambu, yang ketersediaannya melimpah di dalam negeri, kini sedang diuji coba sebagai bahan baru untuk pembuatan gitar.

Komposit serat karbon juga mulai dibentuk menjadi badan gitar; satu panel bahkan dapat terbentuk hanya dalam waktu dua menit. Perusahaan-perusahaan di Zheng'an kini berinvestasi dalam pengembangan produk orisinal, paten, dan merek mereka sendiri.

"Inovasi adalah langkah awal yang penting untuk membuka akses ke pasar tersebut. Hal ini menunjukkan kepada klien bahwa kami memiliki gagasan dan pemahaman tersendiri mengenai gitar. Pada gitar kayu tradisional, terdapat banyak variabel yang berpengaruh. Jika kelembapan tidak dikontrol dengan baik dan kondisi menjadi terlalu lembap, kayu bisa menggembung atau menyerap kelembapan, sehingga ketinggian senar pun bisa berubah naik. Komposit serat karbon merupakan alternatif yang sangat baik. Bahan ini lebih kuat, mengurangi ketergantungan kita pada kayu impor, serta membuat gitar lebih mudah dirawat dan dibawa bepergian," jelas Zhao Jianfeng, Pendiri Natasha Guitars.

Kebangkitan wilayah ini juga menarik perhatian musisi internasional. Johannes Moller, seorang gitaris dan komposer asal Swedia, pernah mendengar kabar tentang pusat pembuatan gitar yang tak lazim ini dan datang langsung untuk melihatnya.

"Saat pertama kali datang ke Zheng'an pada tahun 2017, meskipun proyek 'kota gitar' itu sudah berjalan beberapa tahun, tempat tersebut sama sekali belum dikenal luas. Sejujurnya, saya cukup skeptis. Namun, ketika kembali pada tahun 2018, begitu banyak perubahan yang telah terjadi dalam kurun waktu singkat itu. Saya sangat terkesan dan merasa terharu melihat perkembangannya," ujar Moller.

Di Zheng'an, ada yang menemukan jalan untuk kembali. Ada yang melangkah keluar menuju dunia luar. Dan ada pula yang melintasi dunia demi menemukan jalan ke tempat ini. Bagi para pengunjung, industri yang dulunya tampak mustahil itu kini benar-benar mampu memikat perhatian dunia.