Beijing, Bharata Online - Para pakar militer dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam sebuah forum di Beijing pada hari Rabu (14/10) untuk membahas tren kegiatan teroris serta pengembangan kapasitas penanggulangan terorisme yang melibatkan sistem nirawak dan kecerdasan buatan (AI).
Forum profesional ini diselenggarakan sebagai bagian dari "Great Wall-2026 International Forum on Counter-Terrorism", sebuah forum internasional penanggulangan terorisme yang berlangsung selama tiga hari dan dibuka pada hari Selasa (13/10), dengan menghadirkan lebih dari 320 perwakilan dari lembaga penelitian, badan penanggulangan terorisme, serta lembaga pemikir (think tank) yang berasal dari 62 negara dan organisasi internasional.
Dalam acara tersebut, para peserta berbagi analisis teoretis mengenai ancaman teroris yang muncul serta tantangan yang ditimbulkan oleh sistem nirawak dan AI, sekaligus mendiskusikan pengalaman dan strategi dalam penanggulangan terorisme.
"Berbeda dengan konflik militer berskala besar, kegiatan teroris cenderung berskala lebih kecil, berlangsung sangat cepat, dan mungkin hanya terjadi dalam durasi singkat. Oleh karena itu, berbagai negara perlu menjaga kerja sama serta pertukaran informasi yang bersifat rutin dan terlembagakan," ujar Zhou Bo, Peneliti di Center for International Security and Strategy, Universitas Tsinghua.
Para pakar menyatakan bahwa perkembangan pesat AI dan sistem nirawak tengah mengubah operasi penanggulangan terorisme secara sistematis dan menyeluruh. AI kini merambah ke seluruh tahapan operasi penanggulangan terorisme, mulai dari persepsi, respons, hingga penilaian.
"Sebagai contoh, AI memungkinkan aparat untuk mengetahui lokasi target dan sarana yang digunakan. Dalam pelaksanaan operasi, AI dapat membantu berbagai peralatan—seperti robot atau pesawat nirawak (drone), untuk menjalankan misinya. Terakhir, dalam tahap penilaian, AI juga berperan. Jadi, AI telah meresap ke dalam keseluruhan proses operasi penanggulangan terorisme," jelas Wu Mingxi, Pakar Militer di Bidang AI dan Peralatan.
Wu mencatat bahwa penyebaran teknologi baru seperti AI telah memunculkan risiko nontradisional, termasuk serangan siber dan deepfake, yang menciptakan tantangan baru bagi tata kelola penanggulangan terorisme.
"Ada kemungkinan kelompok teroris memanfaatkan AI untuk tujuan pembelajaran, yang kemudian menuntut adanya optimalisasi pada model bahasa besar (large language models). Mereka juga bisa menggunakannya untuk mengembangkan peralatan baru atau membuat video deepfake. Kita harus memahami cara menangani konten-konten palsu semacam ini," kata Wu.
Terkait pengembangan peralatan, Wu menunjukkan bahwa perangkat nirawak untuk penanggulangan terorisme kini berevolusi dari sistem yang dikendalikan manusia menjadi unit otonom maupun kawanan (swarm) yang terdiri dari berbagai jenis perangkat. Bahkan, operasi kawanan yang mengintegrasikan wahana udara dan darat telah terlihat dalam konflik nyata.
"Sebagai contoh, ketika pesawat nirawak (drone) dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI), perangkat tersebut menjadi sepenuhnya otonom. Drone-drone ini bahkan dapat membentuk kawanan (swarm) dan melancarkan serangan sistematis. Kami telah mencatat bahwa serangan semacam itu sudah terjadi di medan pertempuran dalam berbagai konflik regional. Di satu sisi, kita memiliki senjata dan peralatan baru untuk misi kontra-terorisme. Di sisi lain, kita harus menghadapi tantangan yang muncul akibat penggunaan teknologi oleh kelompok teroris," ujar Wu.
Menyoroti bahwa ancaman terorisme berbasis teknologi cerdas tidak mengenal batas negara, Peng Jijun, Sekretaris Jenderal panitia penyelenggara forum tersebut, menyerukan kepada seluruh negara di dunia untuk meningkatkan pertukaran intelijen, teknologi, dan pengalaman praktis guna membangun sinergi kontra-terorisme global.
"Masyarakat dari berbagai wilayah dan negara memiliki kebutuhan keamanan yang berbeda karena perbedaan kondisi nasional, lingkungan, maupun posisi geopolitik mereka. Namun, kontra-terorisme merupakan tujuan bersama seluruh umat manusia. Hanya dengan mencapai konsensus global dalam kontra-terorisme, membangun 'tembok pelindung' (firewall) terhadap terorisme, serta mengembangkan kemampuan dan sarana kontra-terorisme secara bersama-sama, kita dapat membentuk sinergi untuk mencegah dan memerangi terorisme secara maksimal, demi mewujudkan dunia yang indah dan tempat tinggal yang nyaman bagi kita semua," jelas Peng.