CINCINNATI, Radio Bharata Online - Akhir pekan Natal telah dirusak oleh kekerasan senjata di beberapa negara bagian AS, dan menjadi bencana lain yang mencatat rekor penembakan tersuram di AS.
Di antara insiden tersebut, setidaknya dua orang terluka dalam penembakan semalam di sebuah bar di Cincinnati, Ohio, pada hari Minggu, seperti dilansir media lokal WLWT.
Para korban diangkut ke rumah sakit dengan luka yang tidak mengancam jiwa. Polisi Cincinnati belum merilis identitas para korban atau tersangka, karena kasus ini masih diselidiki.
USA Today melaporkan, seorang pria di Florida ditetapkan sebagai tersangka dalam penembakan hari Minggu yang menewaskan satu orang dan melukai beberapa orang, di sebuah mal di Florida tengah, yang dipenuhi pembeli saat liburan dua hari sebelum Natal, menurut USA Today.
Departemen Kepolisian Ocala mengidentifikasi tersangka sebagai Albert James Shell Jr., 39, dan pihak berwenang yakin penembakan itu adalah "tindakan kekerasan yang ditargetkan".
Di Newton, Mississippi, departemen kepolisian setempat menanggapi penembakan pada hari Minggu, yang menyebabkan satu orang tewas, sebagaimana diberitakan outlet media lokal WTOK.
Kepala polisi setempat Randy Patrick membenarkan, bahwa korban dinyatakan meninggal di tempat kejadian, dan tersangka Fedarius Lindsey menyerahkan diri.
Penembakan yang terjadi pada akhir pekan Natal, merupakan pengingat suram bahwa kekerasan di Amerika tidak pernah berhenti.
Menurut laporan Gun Violence Archive (GVA), sebuah organisasi nirlaba yang memantau penembakan di AS, hingga hari Sabtu, setidaknya telah terjadi 645 penembakan massal di negara tersebut, dan mendefinisikan penembakan massal, sebagai sebuah insiden yang melibatkan empat korban atau lebih.
GVA juga mengatakan hampir 420.000 orang tewas dalam insiden terkait senjata pada periode yang sama. GVA melacak sekitar 645 penembakan massal pada tahun 2022, dan 690 pada tahun 2021. (CGTN)