SHANGHAI, Bharata Online - Para ilmuwan Tiongkok pada hari Senin mengirimkan sampel serat eksperimental pertama yang terbuat dari tanah bulan, ke Stasiun Luar Angkasa Tiongkok, melalui pesawat ruang angkasa kargo Tianzhou-10, untuk pengujian paparan lingkungan luar angkasa jangka panjang, termasuk dalam kondisi vakum tinggi, radiasi intens, dan fluktuasi suhu ekstrem, dengan harapan dapat mendukung pembangunan stasiun penelitian bulan di masa depan.

Laman The Paper pada hari Selasa melaporkan, bahwa mengingat tingginya biaya transportasi antara Bumi dan bulan, serat tanah bulan memiliki potensi aplikasi yang luas, seperti material penguatan beton bulan, yang dapat membantu memenuhi kebutuhan konstruksi stasiun penelitian bulan di masa depan.

Mengutip laporan Universitas Donghua yang berbasis di Shanghai, The Paper mengatakan, Tim peneliti di Universitas Donghua telah memintal "sutra luar angkasa" hanya dari 0,5 gram basal bulan, yang dibawa kembali oleh misi Chang'e-5.   Debu yang lebih ringan dari koin ini, telah mengalami pelapukan luar angkasa selama miliaran tahun.

Mengubah tanah bulan menjadi serat, pada prinsipnya tidak terlalu rumit. Dalam suhu tinggi, tanah bulan dilelehkan menjadi tetesan, dan kemudian ditarik menjadi serat. Tantangan utamanya terletak pada kenyataan, bahwa lingkungan vakum tinggi dan mikrogravitasi bulan, membuat peralatan konvensional tidak dapat beroperasi. Para peneliti merancang perangkat pemintal pertama di dunia, yang mampu mensimulasikan lingkungan bulan.  Dengan perangkat tersebut, tim berhasil melelehkan tanah bulan, dan menariknya menjadi filamen, menghasilkan sampel serat kontinu sepanjang sekitar tiga meter, dan berdiameter lebih dari 10 mikrometer, atau kira-kira setebal rambut manusia.

Menurut Universitas Donghua, eksperimen stasiun ruang angkasa, akan menguji serat tersebut di bawah kondisi vakum tinggi, radiasi kuat, dan suhu ekstrem, untuk mendukung penelitian di masa mendatang.  Saat ini penelitian terkait serat tanah bulan masih dalam tahap validasi awal, dan masih jauh dari aplikasi praktis. (Sumber: Global Times)