Tiongkok, Bharata Online - Meningkatnya permintaan Tiongkok akan berbagai layanan, mulai dari perjalanan hingga keuangan, mendorong pesatnya perluasan perdagangan jasa dengan Amerika Serikat serta membuka peluang baru bagi bisnis-bisnis Amerika.
Impor jasa Tiongkok melampaui angka 620 miliar dolar AS (sekitar 11 ribu triliun rupiah) pada tahun 2025, menjadikannya importir jasa terbesar kedua di dunia. Permintaan yang terus tumbuh ini telah menciptakan peluang besar bagi industri jasa global.
Antara tahun 2001 dan 2025, perdagangan jasa antara kedua negara meningkat hampir sembilan kali lipat, sementara surplus AS melonjak hampir lima belas kali lipat. Seiring perusahaan-perusahaan Tiongkok mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke sektor ini, peluang baru pun bermunculan bagi bisnis-bisnis AS.
"Seiring berkembangnya pasar jasa di Tiongkok, baik dari segi skala maupun kecanggihan, menurut saya peluang nyata bagi perusahaan multinasional bukan sekadar menjual produk dan layanan di pasar tersebut, melainkan juga berpartisipasi dalam inovasi itu sendiri," ujar Andrew Wu, CEO Dun and Bradstreet China, anak perusahaan Tiongkok dari firma data dan analitik bisnis global tersebut.
"Di industri jasa Tiongkok, baik yang memanfaatkan AI, teknologi, maupun layanan kesehatan, menurut saya terdapat peluang luar biasa untuk berfokus pada usaha kecil dan menengah," kata Randy Peers, Presiden dan CEO Brooklyn Chamber of Commerce.
Tiongkok merupakan sumber terbesar surplus jasa AS pada tahun 2025, yang menyumbang sepersepuluh dari total surplus, atau hampir 100 juta dolar AS (sekitar 1,8 triliun rupiah) per hari. Perjalanan, royalti kekayaan intelektual, dan layanan keuangan termasuk di antara sumber-sumber utamanya.
Sementara itu, ekspor jasa Tiongkok ke Amerika Serikat juga tumbuh secara stabil, dengan layanan transportasi, perjalanan, dan keuangan menempati peringkat tiga teratas.
Dengan AI dan teknologi digital yang mengubah wajah perdagangan jasa, kekuatan kedua negara kini saling melengkapi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Kami telah mendirikan pusat penelitian dan pengembangan digital di Nanjing dengan investasi sebesar empat miliar yuan. Saat ini, 90 persen pesanan kami berasal dari saluran digital. Itulah dampak yang diperoleh dari pasar sebesar Tiongkok," ujar Gu Lei, Chief Impact Officer McDonald's Tiongkok.
"Menurut saya, berbagai kapabilitas benar-benar saling melengkapi. Kami menyediakan solusi pemasaran penjualan, solusi kepatuhan, dan solusi layanan keuangan bagi mitra kami. Sementara itu, mitra kami di Tiongkok menyediakan teknologi komputasi awan dan model bahasa berskala besar yang memungkinkan kami melakukan inovasi di lapangan," tutur Wu.
Menatap masa depan, Wu mengatakan bahwa seiring upaya kedua negara dalam mengejar peluang pertumbuhan, ia berharap dunia usaha dari kedua belah pihak akan terus berkolaborasi dan menghadirkan produk-produk baru yang bernilai bagi pasar.