Chongqing, Bharata Online - Kebijakan subsidi suku bunga pinjaman perumahan yang baru diterapkan di Tiongkok telah menunjukkan tanda-tanda awal dapat mendorong pasar properti, dengan pembeli rumah pertama langsung merasakan manfaatnya setelah kebijakan tersebut diluncurkan pada hari Kamis (1/10).

Saat liburan Hari Nasional selama tujuh hari dimulai, ruang pamer properti yang ramai dipadati oleh calon pembeli di berbagai kota di seluruh Tiongkok. Di Kota Chongqing, Tiongkok Barat Daya, Mei Linxia merampungkan pembelian rumah setelah berbulan-bulan memantau kondisi pasar.

"Kami sudah melihat rumah ini tiga kali. Dengan adanya kebijakan subsidi suku bunga yang dimulai pada 1 Oktober, kami bisa menghemat 21.000 yuan (sekitar 56 juta rupiah), jadi kami memutuskan untuk segera membelinya," ujar Mei.

Di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, seorang pembeli rumah setempat bernama Chen Yanping menghitung penghematan yang cukup besar dengan bantuan agen properti.

"Kami bisa menghemat sekitar 50.000 yuan (sekitar 134 juta rupiah) hanya dari biaya bunga saja, yang secara signifikan meringankan beban pembayaran cicilan bulanan," kata Chen.

Tiongkok mulai menerapkan subsidi suku bunga untuk pinjaman perumahan pada hari Kamis (1/10) sebagai bagian dari upaya untuk menekan biaya pembelian rumah dan lebih mendorong permintaan hunian dari masyarakat.

Dengan masa pelaksanaan awal selama satu tahun, otoritas fiskal akan memberikan subsidi tahunan sebesar 1 poin persentase bagi pembeli rumah pertama yang memenuhi syarat, menurut pemberitahuan bersama yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan, Bank Rakyat China (People's Bank of China), dan Administrasi Regulasi Keuangan Nasional pada hari Selasa (29/9).

Ini adalah kali pertama pemerintah pusat menawarkan subsidi suku bunga untuk pinjaman perumahan komersial.

Kebijakan subsidi suku bunga ini menyasar pembeli rumah pertama. Setiap unit yang dibeli tidak boleh melebihi luas 120 meter persegi, dan harga pembelian tidak boleh melebihi 1,5 juta yuan (sekitar 4 miliar rupiah).

Berdasarkan kebijakan ini, jumlah pinjaman maksimum yang mendapat subsidi bunga bisa mencapai 1 juta yuan (sekitar 2,67 miliar rupiah), dan periode subsidi dapat berlangsung hingga lima tahun.

Menurut perkiraan, untuk pinjaman hipotek pribadi komersial jangka panjang sebesar 1 juta yuan (sekitar 2,67 miliar rupiah), subsidi tersebut dapat membantu peminjam mengurangi akumulasi pembayaran bunga hingga hampir 50.000 yuan (sekitar 134 juta rupiah).

Menurut instansi-instansi terkait, kebijakan ini bertujuan untuk memberikan manfaat secara tepat sasaran kepada kelompok yang dituju—dengan menetapkan ketentuan mengenai harga rumah, luas bangunan, dan kategori pinjaman, serta membantu keluarga berpenghasilan rendah mengurangi beban cicilan bulanan mereka.

Kebijakan ini berfokus pada pembeli rumah pertama yang memiliki kebutuhan mendasar, dengan mendukung keluarga untuk membeli rumah berukuran kecil hingga menengah yang harganya relatif terjangkau.

Para pelaku industri meyakini bahwa subsidi bunga dapat menekan biaya pembelian rumah, mempercepat penyerapan stok rumah baru, serta meringankan tekanan pendanaan bagi pengembang properti.

"Kebijakan ini benar-benar membantu keluarga pembeli rumah pertama, seperti penduduk baru di perkotaan, lulusan perguruan tinggi muda yang baru bekerja, serta rumah tangga pekerja perkotaan, untuk meringankan beban keuangan mereka," ujar Peng Tingting, Wakil Manajer Umum Bisnis Kredit Ritel di Bank of Communications Cabang Zhejiang.

"Hal ini menunjukkan besarnya dukungan berkelanjutan pemerintah terhadap pasar properti. Sinyal yang disampaikan sangatlah penting, karena ini menandai kali pertama pemerintah pusat mengalokasikan dana nyata untuk menyubsidi pembeli rumah," kata Cai Zhen, Direktur Pusat Penelitian Keuangan Real Estat di National Institution for Finance and Development, Chinese Academy of Social Sciences.

"Menurut saya, kebijakan ini mencerminkan dua aspek ketepatan sasaran. Pertama, pendekatannya yang menyasar kota-kota kecil dan menengah, dengan dana sebesar 1,5 juta yuan (sekitar 4 miliar rupiah) sudah cukup untuk membeli rumah yang memenuhi harapan pembeli. Kedua, fokusnya dalam mendukung kelompok berpenghasilan rendah dan menengah, di mana subsidi bunga selama lima tahun secara signifikan meringankan beban keuangan mereka," tambah Cai.