Beijing, Bharata Online - Investasi dan kerja sama di bawah Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok semakin bergeser ke sektor teknologi tinggi, ramah lingkungan, dan rendah karbon pada paruh pertama tahun ini, kata seorang pejabat Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (National Development and Reform Commission/NDRC) pada hari Jumat (31/7).
Sejak Tiongkok pertama kali mengusulkan BRI pada tahun 2013, inisiatif tersebut terus berupaya meningkatkan konektivitas global, mendorong pertumbuhan perdagangan dan pertukaran.
Berbicara pada konferensi pers NDRC bulan Juli 2026, Jiang Yi, Direktur Kantor Studi Kebijakan di NDRC, menyoroti data yang menunjukkan peningkatan perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara mitra BRI hingga saat ini pada tahun 2026.
"Mengenai kerja sama ekonomi dan perdagangan, total volume impor dan ekspor Tiongkok dengan negara-negara mitra BRI mencapai 12,97 triliun yuan (sekitar 35 ribu triliun rupiah), naik 14,8 persen dari tahun sebelumnya, yang mencakup 50,9 persen dari total volume perdagangan luar negeri," ujar Jiang, yang juga Juru Bicara NDRC.
Ia menyoroti bahwa seiring dengan kematangan inisiatif ini, kini inisiatif tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap transisi hijau dunia dan modernisasi secara keseluruhan.
"Investasi dan kerja sama dalam pembangunan bersama Inisiatif Sabuk dan Jalan terus meluas ke bidang teknologi tinggi, hijau, dan rendah karbon," kata pejabat tersebut.
"Dari perspektif interkonektivitas, operasi angkutan barang telah resmi dimulai di bagian Hungaria dari Jalur Kereta Api Hungaria-Serbia. Dan konstruksi skala penuh telah dimulai pada proyek kereta api Tiongkok-Kirgistan-Uzbekistan. Operasi kereta barang Tiongkok-Eropa telah mempertahankan pertumbuhan yang kuat. Pada semester pertama tahun ini, total 11.186 perjalanan kereta barang telah diselesaikan, menandai peningkatan 20,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," jelasnya.