Beijing, Bharata Online - Menurut Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok pada hari Jumat (7/8), perdagangan luar negeri barang Tiongkok meningkat 17,3 persen secara tahunan dalam tujuh bulan pertama tahun 2026, mempertahankan momentum pertumbuhan yang kuat.
Total nilai impor dan ekspor barang mencapai 30,13 triliun yuan (sekitar 79.905 triliun rupiah) pada periode Januari-Juli 2026, menandai kali pertama angka tersebut melampaui ambang batas 30 triliun yuan untuk periode yang sama dalam sejarah.
Pada bulan Juli 2026 saja, total impor dan ekspor naik 19,2 persen secara tahunan menjadi 4,66 triliun yuan (sekitar 12.358 triliun rupiah. Secara rinci, nilai ekspor mencapai 2,71 triliun yuan (sekitar 7.187 triliun rupiah), naik 17,8 persen secara tahunan, sementara total impor mencapai 1,95 triliun yuan (sekitar 5.171 triliun rupiah), naik 21,2 persen.
"Perekonomian kami terus melaju di tengah berbagai tantangan dan mencapai pembangunan berkualitas tinggi yang didorong oleh inovasi, sehingga memberikan dukungan kuat bagi pertumbuhan impor dan ekspor. Pada bulan Juli, perdagangan luar negeri kami mempertahankan momentum pertumbuhan positif yang terlihat pada paruh pertama tahun ini, dengan tingkat pertumbuhan yang 2,3 poin persentase lebih cepat dibandingkan paruh pertama. Total nilai impor dan ekspor melampaui 4 triliun yuan selama lima bulan berturut-turut," ujar Lyu Daliang, Direktur Departemen Statistik dan Analisis di bawah Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok.
Tiongkok terus memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan dengan mitra dagang global sejak awal tahun ini. Nilai impor dan ekspor dengan ASEAN, Uni Eropa, Amerika Latin, dan Afrika masing-masing meningkat sebesar 20 persen, 9,5 persen, 15,4 persen, dan 18,9 persen dalam tujuh bulan pertama 2026.
Pada periode Januari-Juli 2026, nilai impor dan ekspor dengan negara-negara mitra Belt and Road tumbuh sebesar 15,5 persen menjadi 15,36 triliun yuan (sekitar 40.731 triliun rupiah), sedangkan perdagangan dengan ekonomi anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) lainnya naik 21 persen menjadi 18,03 triliun yuan (sekitar 47.811 triliun rupiah).