Zhejiang, Bharata Online - Standar internasional mengenai arsitektur referensi antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI) yang dipimpin oleh Tiongkok telah resmi dirilis. Menurut Administrasi Standardisasi Tiongkok (Standardization Administration of China/SAC) pada hari Jumat (6/11), pencapaian ini menandai keberhasilan besar lainnya bagi Tiongkok dalam standardisasi BCI di tingkat internasional.
Sebelumnya, standar internasional pertama di bidang BCI yang dipimpin oleh Tiongkok, yakni standar mengenai terminologi BCI, telah resmi dirilis tahun lalu.
Standar yang diterbitkan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (International Organization for Standardization/ISO) dan Komisi Elektroteknik Internasional (International Electrotechnical Commission/IEC) ini menjawab empat pertanyaan inti: apa itu BCI, bagaimana cara penggunaannya, apa saja fungsinya, serta bagaimana implementasinya.
Standar tersebut menguraikan berbagai model implementasi yang umum dan membangun kerangka teknis komprehensif yang mencakup konsep, aplikasi, fungsi, dan implementasi.
Penyusunan standar ini dipimpin oleh para ahli asal Tiongkok, dengan melibatkan pakar dari berbagai negara, termasuk Italia, Republik Korea, Inggris, India, dan Amerika Serikat.
"Definisi mengenai antarmuka otak-komputer terus berkembang. Pada awalnya, teknologi ini lebih berfokus pada pembacaan niat. Setelah dua hingga tiga dekade pengembangan, fungsinya kini tidak lagi terbatas pada pembacaan saja. Secara sederhana, sistem ini membaca sinyal, menafsirkannya, lalu melakukan pengaturan, intervensi, dan memengaruhi sinyal tersebut—membentuk sebuah siklus tertutup (closed loop) dalam membaca dan menulis sinyal," ujar Pan Gang, salah satu penyusun standar internasional tersebut.
Standar ini mengelompokkan penggunaan BCI ke dalam lima kategori. Kategori pertama adalah pemantauan kondisi otak secara waktu nyata (real-time), seperti tingkat perhatian, kelelahan, dan beban kognitif, yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan peringatan keselamatan, misalnya dalam lingkungan operasional industri.
"Bagi pasien dengan cedera fisik parah atau mereka yang tidak mampu berkomunikasi, kami menggunakan antarmuka otak-komputer untuk menghubungkan otak dengan perangkat robotik eksternal, seperti kursi roda yang dikendalikan melalui sinyal otak, guna membantu mereka melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengetik atau minum air," jelas Yu Yuntao, Ketua Subkomite Teknis Standardisasi untuk BCI.
Selain itu, BCI dapat diintegrasikan dengan robot rehabilitasi dan perangkat serupa untuk pelatihan neurorehabilitasi, yang membantu pasien dengan cedera sumsum tulang belakang atau stroke dalam memulihkan fungsi motorik mereka. Melalui metode seperti neurofeedback, teknologi ini juga dapat membantu individu sehat dalam mengatur tingkat perhatian dan melatih kemampuan kognitif, sehingga mampu meningkatkan atau memperluas kapasitas yang mereka miliki saat ini.
Dikombinasikan dengan gerakan mata, suara, gestur, dan sinyal otot, BCI juga dapat memungkinkan interaksi manusia-mesin multimodal yang lebih akurat dan fleksibel.