Taiwan, Bharata Online - Masyarakat dari berbagai sektor di Taiwan memperingati 81 tahun kembalinya Taiwan dari kekuasaan kolonial Jepang pada hari Minggu (25/10).
Perwakilan dari lebih dari 20 kelompok berkumpul di Taipei Zhongshan Hall, lokasi diadakannya upacara penerimaan penyerahan diri Jepang di Provinsi Taiwan (bagian dari teater perang Tiongkok bagi pihak Sekutu) pada tahun 1945, yang menandai berakhirnya lima dekade kekuasaan kolonial Jepang.
Para peserta menyanyikan lagu untuk memperingati pemulihan Taiwan dan memberikan penghormatan kepada mereka yang berjuang melawan agresi Jepang di depan sebuah monumen batu yang terletak di alun-alun di luar gedung tersebut.
Acara peringatan ini berlangsung di tengah sikap otoritas Partai Progresif Demokratik (DPP) di Taiwan, yang cenderung mendukung separatisme, yang secara nyata menghindari penyebutan kemenangan Tiongkok dalam Perang Perlawanan terhadap Agresi Jepang serta kembalinya Taiwan ke pangkuan Tiongkok. Mereka juga berulang kali meremehkan atau berupaya memoles sejarah kekuasaan kolonial Jepang di pulau tersebut.
Hsiung Yi, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Aliansi Reunifikasi (Reunification Alliance Party) di Taiwan, menyatakan bahwa kembalinya Taiwan merupakan memori sejarah bersama bagi seluruh bangsa Tiongkok.
"Kembalinya Taiwan menandai momen di mana rakyat Taiwan akhirnya terbebas dari kekuasaan kolonial Jepang. Jika kita melupakan sejarah, tragedi sejarah bisa saja terulang kembali. Terlebih lagi, ketika pihak pelaku sendiri enggan mengakuinya, kita sebagai korban tidak boleh melupakan periode sejarah ini. Kita harus terus menceritakannya berulang kali, agar lebih banyak orang di Taiwan dapat mengingat hari penting kembalinya Taiwan ini beserta makna yang terkandung di dalamnya," ujarnya.
Para peserta menegaskan pentingnya mengingat masa lalu untuk memahami masa depan. Taiwan tidak boleh dijadikan pion bagi kekuatan eksternal, dan kelompok separatis di Taiwan tidak akan mampu menghentikan tren sejarah menuju reunifikasi tanah air.
"Tujuan utama acara ini adalah untuk mengingatkan kaum muda di Taiwan, khususnya generasi penerus, mengenai sejarah yang kini tidak lagi mereka pahami, mengingat Partai Progresif Demokratik (Democratic Progressive Party) telah mengubah kurikulum sekolah. Generasi muda tidak memahami betapa kejamnya perang tersebut, atau seberapa besar penderitaan yang dialami rakyat Taiwan akibat kekejaman Jepang selama masa perang. Tujuan kami adalah memastikan mereka tidak pernah melupakan semua ini," ujar Tan Chuan-shao, Wakil Direktur Departemen Pemuda Partai Baru (New Party) di Taiwan.
Upacara tersebut diakhiri dengan pembacaan pernyataan bersama oleh para perwakilan, yang menyerukan pentingnya mengingat sejarah, menentang militerisme Jepang, menjaga perdamaian, serta membangkitkan kembali bangsa Tiongkok. Setelah perang melawan Tiongkok pada tahun 1894, Jepang merebut Taiwan dan Kepulauan Penghu pada tahun 1895, yang membuat Taiwan berada di bawah kekuasaan kolonial selama 50 tahun.
Pemulihan Taiwan pada tahun 1945 menandai kemenangan yang diraih dengan susah payah dalam perang perlawanan rakyat Tiongkok terhadap agresi Jepang selama Perang Dunia II, sekaligus menjadi momen penting dalam upaya bangsa tersebut untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayahnya.
Pada bulan Oktober 2025, badan legislatif nasional Tiongkok menetapkan tanggal 25 Oktober sebagai Hari Pemulihan Taiwan.