Dubai, Radio Bharata Online - Tiongkok sedang berbicara dengan semua pihak yang terkait, untuk menemukan solusi yang dapat diterima semua pihak, dan mendorong keberhasilan COP28, yang dianggap sebagai konferensi iklim “paling sulit” dalam beberapa tahun terakhir.

Xie Zhenhua, utusan khusus Tiongkok untuk perubahan iklim, pada konferensi pers di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Sabtu malam mengatakan, Tiongkok telah berpartisipasi dalam perundingan iklim selama 16 tahun, dan konferensi kali ini adalah yang paling sulit.

Kepada media, Xie mengatakan, bahwa semua topik terungkap sepenuhnya pada minggu pertama COP28, dengan terbentuknya rancangan dokumen versi pertama. Versi ini, dengan total 27 halaman, mencakup lebih dari 200 masalah yang perlu dipecahkan.

Saat ini, Tiongkok sedang melakukan konsultasi intensif dengan semua pihak besar, untuk menemukan kesepakatan yang sejalan dengan semangat Perjanjian Paris, mencerminkan tren umum transformasi energi, dan dapat menunjukkan arah yang tepat, untuk upaya masa depan, serta mewujudkannya.

Xie yakin bahwa kontribusi terbesar Perjanjian Paris adalah menunjukkan arah umum transisi global yang ramah lingkungan dan rendah karbon, serta memperjelas jalur transformasi.  Namun, transisi energi dapat menjadi proses yang sulit, karena setiap negara memiliki kondisi nasional, struktur energi, dan sumber daya, serta masyarakat yang berbeda.  Perlu diingat bahwa ketahanan energi, pangan, dan ekonomi merupakan prasyarat untuk kelancaran transisi.

Xie menekankan bahwa dalam proses transisi energi, negara-negara harus memahami dan mendukung satu sama lain, belajar dari kekuatan satu sama lain, menemukan solusi terbaik terhadap permasalahan, melalui penguatan kerja sama internasional.

Mengenai ambisi Tiongkok dalam melaksanakan tujuan Perjanjian Paris, Xie mengatakan negaranya akan mencapai puncak karbon sebelum tahun 2030, dan telah memberikan kontribusi besar terhadap transisi energi global, dan pengembangan sumber energi terbarukan. (CGTN)