BEIJING, Radio Bharata Online - Hubungan Tiongkok-Uni Eropa (UE) tidak boleh dibajak oleh ideologi dan geopolitik, dan Uni Eropa harus memanfaatkan momentum positif yang dihasilkan oleh KTT Tiongkok-UE untuk mendorong kerja sama bilateral, daripada diseret oleh kelompok garis keras yang mendorong perbedaan.

Para analis Tiongkok pada hari Kamis mengatakan hal itu, setelah Parlemen Eropa mengadopsi laporan dan resolusi, yang mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok dengan membesar-besarkan ketidakseimbangan perdagangan, topik hak asasi manusia, dan masalah Taiwan.

Parlemen Eropa, yang digambarkan oleh beberapa orang sebagai basis “anti-Tiongkok”, telah mengadopsi laporan mengenai hubungan UE-Tiongkok pada hari Rabu, mengklaim bahwa Tiongkok adalah mitra Uni Eropa, namun juga semakin menjadi saingan secara sistemik.

Resolusi ini juga menyerukan peninjauan dan pembaruan, atas pendekatan strategis UE tahun 2019 terhadap Tiongkok, dan mendesak UE untuk terlibat secara pragmatis dengan Tiongkok dalam menghadapi tantangan global, sambil terus mengonfrontasi Tiongkok mengenai masalah hak asasi manusia di Xinjiang, Xizang, Hong Kong, dan Makau.

Misi Tiongkok untuku Uni Eropa, pada hari Rabu mengatakan, Tiongkok dengan tegas menentang laporan dan resolusi Parlemen Eropa itu, karena mereka secara serius melanggar kedaulatan Tiongkok, mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok, dan melanggar norma-norma dasar hubungan internasional dan komitmen politik pihak Eropa.

Misi Tiongkok ini juga menekankan, bahwa hubungan Tiongkok-UE, tidak boleh dibajak oleh ideologi dan geopolitik, mengingat bahwa konflik dan konfrontasi merugikan kedua belah pihak dan dunia.

Meskipun KTT Tiongkok-UE ke-24, yang diadakan di Beijing pada tanggal 7 Desember, telah menawarkan peluang bagi kedua belah pihak untuk mendorong pertukaran dan mengelola perbedaan, laporan dan resolusi tersebut menunjukkan, bahwa persepsi terhadap Tiongkok di dalam UE, masih beragam dan rumit.  Menurut para analis, prasangka ideologis di dalam UE mungkin berdampak pada pertumbuhan stabil hubungan Tiongkok-UE.

Parlemen Eropa selalu mengambil sikap keras terhadap Tiongkok, dan laporan serta resolusi tersebut menunjukkan bahwa selain menjadi mitra, pesaing, dan saingan, beberapa anggota Parlemen Eropa hanya menganggap Tiongkok sebagai pesaing.

(Global Times)