Beijing, Bharata Online - Harga komoditas curah Tiongkok melonjak pada bulan September 2026, didorong oleh musim puncak tradisional untuk produksi dan konstruksi, percepatan proyek-proyek besar, serta peningkatan berkelanjutan dalam output manufaktur dan permintaan pasar, yang meletakkan landasan kokoh bagi stabilitas operasional ekonomi pada kuartal keempat tahun ini.

Menurut data yang dirilis oleh Federasi Logistik dan Pembelian Tiongkok pada hari Senin (5/10), indeks yang memantau harga komoditas curah negara tersebut berada di angka 137,6 pada bulan September 2026, naik 4,1 persen secara bulanan dan 22,9 persen secara tahunan.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa dari 50 jenis produk utama yang dipantau ketat oleh federasi, 38 di antaranya mengalami kenaikan harga secara bulanan. Metanol, etilena glikol, dan kokas mencatat kenaikan tertinggi, masing-masing melonjak sebesar 39,5 persen, 24,8 persen, dan 20,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada bulan September 2026, didorong oleh kenaikan harga minyak mentah internasional, pasokan yang lebih ketat, dan peningkatan biaya produksi, subindeks harga energi dan bahan kimia melonjak tajam masing-masing sebesar 14,8 persen dan 13,7 persen secara bulanan.

Sementara itu, harga logam nonferro, logam ferro, dan mineral semuanya mencatat kenaikan bulanan seiring dengan meningkatnya laju aktivitas manufaktur dan konstruksi.

Menurut para analis, kenaikan harga komoditas curah negara tersebut didukung oleh kombinasi antara musim puncak produksi, peningkatan permintaan domestik dan internasional, serta tekanan kenaikan biaya akibat volatilitas harga global dan ketatnya pasokan komoditas tertentu.

Untuk memperkuat pemulihan pasar yang stabil, para ahli menyerukan upaya peningkatan pemantauan dan pencegahan risiko terhadap komoditas utama, stabilisasi pasokan energi dan sumber daya vital, serta percepatan mekanisme pembagian risiko dan manfaat di seluruh rantai pasok industri guna memperkuat ketahanan ekonomi.