Jakarta, Bharata Online - "Saya melihat Guangdong sebagai salah satu provinsi terbesar di Tiongkok dalam hal ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan berbagai bidang lainnya," ujar Al Busyra Basnur, Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok. "Karena itu, banyak pengusaha Indonesia yang menantikan peluang untuk mengembangkan kerja sama baru dengan Guangdong," imbuhnya.

Semangat tersebut mendapat sambutan melalui penyelenggaraan acara "Guangdong Meets the Asia-Pacific • China Finds 'Guangdong Goods, Global Reach'" pada Selasa (22/9) di Jakarta. Acara ini menghadirkan lebi hdari 60 produk unggulan Guangdong ke Indonesia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nanfang Media Group, bekerja sama dengan South dan Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok, serta didukung oleh IP Guangdong.

Momentum tersebut mencerminkan semakin eratnya hubungan antara Tiongkok dan Indonesia. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai lebih dari 167 miliar dolar AS pada 2025, dan telah menembus 100 miliar dolar AS hanya dalam enam bulan pertama 2026. Tiongkok juga telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini, dalam rangka "China Year" APEC, kedua negara yang merupakan mitra strategis komprehensif terus memperkuat momentum tersebut.

Ada lima kategori utama yang menjadi daya tarik bagi para pengunjung di acara ini, yaitu teknologi AI mutakhir, cita rasa khas Lingnan, produk budaya kreatif, gaming dan IP digital, serta busana berbahan Xiangyunsha.

Para pengunjung dapat mencicipi "tiga teh" khas Lingnan dan "tiga permen" Guangdong, merakit puzzle logam 3D berbentuk barongsai dan balok miniature kapal jung, serta mengikuti berbagai aktivitas interaktif, seperti membuat kue bulan dan lampion.

Area teknologi dari Shenzhen juga menjadi salah satu sorotan utama. Timekettle AI Interpreter menawarkan fitur penerjemahan simultan dalam tiga bahasa. Sementara itu, robot eksoskeleton Planck, yang memiliki berat kurang dari 2 kilogram dan dilengkapi algoritma AI untuk menganalisis pola berjalan, mampu memberikan bantuan hingga 40 persen saat berjalan. Berbagai produk teknologi lainnya, seperti gitar pintar tanpa senar, perangkat drum udara, printer 3D desktop, serta perangkat gaming, turut dipamerkan.

Sebagai bagian dari perannya dalam menjembatani pertukaran dan kolaborasi antara Tiongkok dan Indonesia, Nanyang Bridge Media turut mendukung penyelenggaraan kegiatan ini di Jakarta. Semangat tersebut akan terus dilanjutkan melalui Nanyang Film Festival 2026 di FLIX Cinema Jakarta, yang akanberlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Jakarta dan menghadirkan pilihan film unggulan dari Tiongkok.

Melalui karya-karya sinema tersebut, masyarakat Indonesia dan para pecinta film akan memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat keberagaman budaya, kehidupan masyarakat, serta perkembangan industri kreatif Tiongkok, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pertukaran budaya dan hubungan antarmasyarakat antara kedua negara.

Alivia Shofaa, salah seorang warga Indonesia yang hadir dalam acara tersebut, mengaku terkesan. “Makanan di Tiongkok sangat lezat, dan budayanya juga sangat beragam," ujarnya.

Pengunjung lainnya, Gong Xiuqing, mengaku senang dapat menemukan kue bulan dan produk Wang laoji dalam acara tersebut. "Kami tidak perlu jauh-jauh pergi ke Guangdong untuk membeli produk-produk seperti ini," katanya.

Ia juga mengenang perubahannya saat berkunjungke Guangzhou. "Setiap kali saya kembali ke Guangzhou, saya melihat kota tersebut semakin modern dan semakin indah."

Wang Siping, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, menekankan bahwa Tiongkok dan Indonesia merupakan negara tetangga yang bersahabat. "Hubungan bilateral terus mempertahankan momentum perkembangan yang positif, sementara pertukaran di tingkat daerah dan antarmasyarakat juga semakin erat," ujarnya.

Liu Qiyu, Presiden Nanfang Media Group, menyoroti hubungan historis antara kedua negara. "Pada masa lalu, kapal-kapal dagang berlayar dari Tiongkok membawa porselen, teh, dan berbagai produk Guangdong keselatan, lalu kembali ke utara membawa lada, cengkih, dan berbagai kisah," ujarnya.

"Hari ini, kami membawa 'produk unggulan Guangdong' ke Jakarta. Manufaktur pintar turut memperlihatkan daya tarik teknologi dari Tiongkok yang modern dan dinamis," lanjutnya.

Haris Chandra, Ketua Kehormatan Senior Tetap Indonesia Guangdong Association Federation, turut menyoroti perkembangan merek-merek Tiongkok di Indonesia. Menurutnya, produk-produk Guangdong perlu memanfaatkan momentum tersebut, khususnya di sektor teknologi.

"Berbagai merek Tiongkok telah hadir di Indonesia dan mencatat hasil yang sangat baik. Sejak beroperasinya Kereta Cepat Jakarta–Bandung, konsumen lokal semakin memiliki pandangan positif terhadap merek-merek Tiongkok," ujarnya.

Kehadiran Ivan Chen, Ketua Komite Tetap Bidang Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kamar Dagang dan Industri (KADIN), serta Devin Pranata, Direktur Bisnis dan Operasional Jakarta Experience Board, bersama dengan beragam produk unggulan, inovasi teknologi, dan kekayaan budaya Guangdong yang dihadirkan di Jakarta, turut memperkaya momentum pertukaran antaraTiongkok dan Indonesia.

Acara ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang pertukaran dan kerja sama antara pelaku usaha, masyarakat, serta berbagai pihak dari kedua negara. Tidak hanya memperkenalkan kualitas dan keragaman produk unggulan Guangdong, kegiatan ini juga menjadi jembatan untuk memperluas pemahaman, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta mendorong kolaborasi yang lebih erat antara Guangdong dan Indonesia di masa mendatang.