Beijing, Bharata Online - Zhou Hongyi, pendiri perusahaan raksasa keamanan siber Tiongkok Qihoo 360 dan anggota badan penasihat politik tertinggi Tiongkok, menekankan perlunya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi ancaman keamanan yang semakin meningkat dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan China Global Television Network (CGTN).
Sebagai anggota Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok atau Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) ke-14, Zhou menempatkan keamanan "AI plus" sebagai inti dari usulannya untuk "Dua Sesi" tahun ini, yang diselenggarakan minggu ini, dan menggambarkannya sebagai strategi utama Tiongkok untuk memperkuat keamanan siber.
"Dua Sesi" tersebut merupakan pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional (KRN) dan Komite Nasional CPPCC, yang menjabat selama lima tahun dan diselenggarakan setiap bulan Maret. Sesi keempat KRN ke-14 dan sesi keempat Komite Nasional CPPCC ke-14 masing-masin dimulai pada hari Kamis (5/3) dan Rabu (4/3).
Menjelaskan lebih lanjut tentang agenda keamanan "AI plus", Zhou mengatakan hal itu akan memungkinkan Tiongkok untuk mensimulasikan serangan siber, mengungkap kelemahan, dan mengerahkan agen digital di berbagai industri, langkah-langkah yang menurutnya sangat penting untuk melindungi perusahaan di era AI.
"Tahun ini saya ingin fokus terlebih dahulu pada keamanan 'AI plus', yang berarti kita harus menggunakan kemampuan AI untuk menyelesaikan masalah keamanan tradisional. Misalnya, kita dapat mensimulasikan serangan terhadap jaringan perusahaan, mengidentifikasi kerentanannya, dan kemudian memperbaikinya. Kedua, saya pikir agen AI akan menjadi faktor kunci agar 'AI plus' benar-benar diterapkan di berbagai industri, karena model besar memiliki keterbatasannya sendiri. Hanya dengan mengubah model besar menjadi agen AI, dan menjadi pakar digital dan magang digital, barulah hal itu dapat diintegrasikan dengan bisnis perusahaan," ujar Zhou.
Beralih ke robot humanoid yang dipamerkan di Gala Festival Musim Semi tahun ini, Zhou mengatakan bahwa penampilan mereka menyoroti kemajuan pesat Tiongkok dalam bidang robotika dan menandakan bahwa era mesin cerdas semakin dekat.
"Saya tidak terkejut. Saya merasa cukup beruntung tidak bertinju dengan robot-robot itu di panggung Gala Festival Musim Semi, karena saya rasa saya tidak bisa memukul mereka. Saya pikir industri manufaktur robot Tiongkok telah mengalami kemajuan besar selama setahun terakhir. Di sisi lain, saya pikir pertunjukan itu juga mencerminkan strategi industri negara kita, yang mengirimkan sinyal kepada kita bahwa era robot akan datang. Bagaimana kita akan memberdayakan perusahaan kita melalui AI? Itu adalah pertanyaan yang perlu dipikirkan oleh para pengusaha dan investor kita," katanya.
Saat Tiongkok memulai Rencana Lima Tahun ke-15 pada tahun 2026, Zhou memproyeksikan bahwa perkembangan AI yang berkelanjutan akan mendorong permintaan yang besar di sektor-sektor kunci, seperti energi, bahan baku, dan chip.
"Pertama, saya pikir energi, serta beberapa bahan baku yang dapat selaras dengan perkembangan daya komputasi akan mengalami kemajuan besar. Industri chip juga akan berkembang. Saya pikir Tiongkok membutuhkan lebih banyak chip inferensi. Dan akan ada juga permintaan besar untuk listrik," jelasnya.
Tahun ini menandai dimulainya periode Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok, yang berlangsung dari tahun 2026 hingga 2030, sebuah periode yang secara luas dianggap penting bagi pembangunan jangka panjang negara tersebut. Rencana ini diharapkan akan secara resmi disahkan oleh Kongres Rakyat Nasional (KRN) selama "Dua Sesi" dengan target yang lebih rinci yang akan dirilis kemudian.