BEIJING, Radio Bharata Online - Regulator nuklir Jepang pada hari Jumat telah memberikan persetujuan bagi perusahaan utilitas Tokyo Electric Power Co (Tepco), untuk memulai membuang satu juta ton air limbah yang terkontaminasi nuklir ke laut.

Pada hari yang sama, Tiongkok mengumumkan larangan impor makanan dari Fukushima, dan sembilan wilayah Jepang lainnya.

Ada seruan yang meningkat dari negara-negara tetangga Jepang dan komunitas internasional, agar Jepang mencabut rencananya.

Di banyak negara, orang-orang mendesak pemerintahnya sendiri supaya melarang makanan, terutama produk akuatik yang diimpor dari Jepang, dan mengambil lebih banyak tindakan untuk memberikan tekanan politik pada pemerintah Jepang.

Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, serta negara-negara Barat, juga didesak untuk tidak berkomplot dengan rencana Jepang, karena kekhawatiran geopolitik, tidak boleh melebihi tanggung jawab dan kewajiban internasional terhadap kesehatan manusia dan ekologi global.

Otoritas bea cukai Tiongkok juga mengecam laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan mengatakan Badan Atom ini telah gagal, untuk sepenuhnya mencerminkan pendapat para ahli yang terlibat dalam evaluasi.  Kesimpulan IAEA belum diakui dengan suara bulat oleh semua pihak.  Laporan IAEA yang dirilis pada hari Selasa, mengklaim bahwa rencana Jepang konsisten dengan standar keamanan internasional.

Sementara pemerintah Tiongkok telah menegaskan kembali penentangannya terhadap rencana dumping Jepang.  Orang-orang Tiongkok kini lebih mencermati berita terkait, dan seruan untuk memboikot barang-barang Jepang telah muncul di kalangan publik dalam beberapa minggu terakhir.  (Global Times)