Beijing, Bharata Online - Utang luar negeri Tiongkok meningkat pada kuartal kedua tahun 2026 di tengah aktivitas perdagangan lintas batas yang tinggi, sementara indikator risiko utang terkini masih berada dalam batas aman yang diakui secara internasional.
Posisi utang luar negeri tercatat sebesar 2,4982 triliun dolar AS (sekitar 45 ribu triliun rupiah) pada akhir Juni 2026, naik 86,1 miliar dolar AS (sekitar 1.541 triliun rupiah) atau 4 persen dibandingkan akhir Maret 2026, menurut data dari Administrasi Negara untuk Valuta Asing atau State Administration of Foreign Exchange (SAFE) pada hari Selasa (29/9).
Li Bin, Wakil Kepala sekaligus Juru Bicara SAFE, mengatakan bahwa peningkatan tersebut terutama didorong oleh perdagangan lintas batas yang cukup aktif, dengan kenaikan pada kredit perdagangan korporasi maupun pinjaman antarperusahaan.
Li menyatakan bahwa utang luar negeri Tiongkok secara umum tetap stabil pada kuartal kedua.
Nilai impor dan ekspor barang Tiongkok mencapai 13,61 triliun yuan (sekitar 36 ribu triliun rupiah) pada kuartal kedua 2026, naik 18,4 persen secara tahunan. Angka ini mencatatkan pertumbuhan tahunan tercepat untuk kuartal mana pun sejak kuartal ketiga tahun 2021, menurut data dari Administrasi Umum Kepabeanan. Nilai perdagangan pada bulan Juni tahun ini saja meningkat 24,2 persen secara tahunan, menandai pertumbuhan selama 17 bulan berturut-turut.
Utang luar negeri dalam denominasi yuan mencakup 56 persen dari total utang pada akhir Juni 2026, naik 1 poin persentase dari akhir Maret tahun ini, sementara porsi utang jangka menengah dan panjang tetap stabil di angka 41 persen.
SAFE menyatakan pada bulan Juli 2026 bahwa porsi utang luar negeri dalam denominasi yuan telah meningkat, sedangkan utang jangka menengah dan panjang tetap stabil di atas 40 persen dalam beberapa tahun terakhir, disertai penurunan signifikan pada risiko ketidaksesuaian mata uang dan jatuh tempo.
Pinjaman luar negeri dalam tingkat moderat memungkinkan perusahaan dan bank di Tiongkok untuk mengakses pasar domestik maupun internasional, mendiversifikasi saluran pembiayaan, dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, risiko akibat tingkat utang yang berlebihan tetap memerlukan pemantauan berkelanjutan, ungkap SAFE.
Pada akhir tahun 2025, posisi utang luar negeri Tiongkok setara dengan 11,9 persen dari produk domestik bruto (PDB), angka yang berada di bawah ambang batas keamanan internasional sebesar 20 persen sebagaimana dirujuk oleh SAFE. Data terpisah yang dirilis pada hari Selasa (29/9) menunjukkan bahwa aset keuangan luar negeri Tiongkok terus melampaui kewajiban luar negerinya. Aset keuangan luar negeri tercatat sebesar 12,1804 triliun dolar AS (sekitar 215 ribu triliun rupiah pada akhir Juni 2026, dibandingkan dengan kewajiban sebesar 8,3555 triliun dolar AS (sekitar 150 ribu triliun rupiah), sehingga menghasilkan aset keuangan luar negeri neto sebesar 3,8249 triliun dolar AS (sekitar 68 ribu triliun rupiah).