BEIJING, Radio Bharata Online - Para pengunjuk rasa berkumpul di depan kantor pusat Tokyo Electric Power Company (TEPCO) di Jepang baru-baru ini, memprotes rencana pembuangan air limbah nuklir dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang lumpuh, ke laut.

Kurata Chizuko, seorang pengunjuk rasa berusia 74 tahun, mengatakan bahwa pemerintah Jepang seharusnya meluangkan lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan rencana alternatif untuk air limbah nuklir tersebut karena rencana yang ada saat ini dapat menimbulkan risiko kerusakan permanen pada ekosistem laut di lepas pantai Jepang dan kesehatan manusia.

Menurut Kurata, TEPCO tidak pernah melakukan investigasi penuh tentang seberapa besar air limbah nuklir akan membahayakan tubuh manusia. Dia tidak berani makan ikan di masa depan, dan lautan bukan hanya milik Jepang.

Kurata mengatakan, setelah kecelakaan nuklir Fukushima, dia tidak membeli makanan laut dari Fukushima. Begitu air limbah nuklir dibuang ke laut, situasinya akan menjadi lebih serius. Pada saat itu, dirinya mungkin tidak akan berani makan makanan laut sama sekali.

Kekhawatiran konsumen telah membuat harga grosir makanan laut yang didaratkan di Fukushima turun. Meskipun sekarang dijual dengan diskon hingga 20 persen, tidak ada konsumen yang mau membelinya.

Takuro Noda, manajer sebuah toko ritel makanan laut di Tokyo mengatakan, kehidupan laut biasanya bergerak bolak-balik melintasi lautan. Menurutnya, rencana pembuangan libah radioaktif harus dipertimbangkan dengan matang, karena akan berdampak serius pada seluruh industri perikanan.

Sejak gempa bumi dan tsunami tahun 2011 melumpuhkan PLTN, industri perikanan Fukushima telah bekerja keras untuk memulihkan kepercayaan dan pangsa pasar.

Namun, pembuangan air limbah nuklir ke laut kemungkinan besar akan membatalkan upaya-upaya tersebut, sehingga para nelayan di sana tidak memiliki jalan lain selain memprotes rencana tersebut. (CGTN)